Monday, August 10, 2015

sejarah kabupaten buol, sul-teng
Keadaan Umum Kabupaten Buol
Secara geografis Kabupaten Buol terletak diantara 0,35°-1,20° LU dan 120,12°- 122,09° Bujur Timur
Dengan luas wilayah: 4.043,57 Km2.
Wilayah buol berbatasan dengan : di wilayah timur dengan Kabupaten Gorontalo, Propinsi Gorontalo, di wilayah barat dengan Kabupaten Toli-toli, di sebelah utara berbatasan dengan Lautan Sulawesi dan Negara Philipina,
di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Toli-toli dan Kabupaten Parimo.
Wilayah Buol merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah yang beribukota di Kecamatan Biau.
Wilayah Boul terbagi atas 11 Kecamatan. 7 Kelurahan dan 101 Desa. (data 2009)
Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010 oleh BPS, jumlah penduduk Kabupaten Buol mencapai
132.381 jiwa yang terdiri dari laki-laki 67.892 jiwa dan perempuan 64.489 jiwa, dengan tingkat
kepadatan penduduk rata-rata 29 jiwa/Km2. Jumlah rumah tangga mencapai 26.929 KK dengan rata-rata
anggota rumah tangga 4-5 orang.Kabupaten Buol memiliki areal hutan seluas 258.228 Ha, yang terdiri dari:
Hutan lindung 63.602 ha
Hutan produksi biasa tetap 60.413 ha,
Hutan produksi terbatas 100.341 ha,
Hutan yang dapat dikonversi 24.070 ha
Hutan suaka alam dan hutan wisata 9.802 ha.
Kabupaten Buol memiliki wilayah perairan Seluas 40.320 Km2 disepanjang garis pantai dengan panjang
234.634 Km. Dalam perairan tersebut terkandung jenis ikan tuna, cakalang, tongkol, karapu, napoleon serta berbagai jenis ikan lainnya.
II. Sejarah Masyarakat dan Hak Ulayat Ahli Waris Masyarakat Adat Buol
II. A. Sistim Pewarisan Masyarakat Adat Buol
Sumber berbagai publikasi yang dikompilasi dengan sumber Bapeda Sulteng
Sejarah Buol mulai dikenal sejak jaman pemerintahan NDUBU I dengan Permaisurinya bernama SAKILATO (sekitar 1380 M) dan selanjutnya digantikan oleh Anogu Rlipu sebagai Madika (Raja), kemudian memindahkan Pusat pemerintahan dari Guamonial ke Lamolan. Setelah Anogu Rlipu meninggal dunia ketika Dai Bole belum kembali dari moyausayya (perantauan), padahal dia yang harusnya menggantikan sebagai Madika,maka
Bokidumemutuskan BATARALANGIT menjadi Madikadengan gelar Madika Moputi atau Sultan Eato,dia merupakan Raja Buol yang pertama memeluk Agama Islam dengan nama Muhammad Tahir Wazairuladhim Abdurahman yang kemudian meninggal pada tahun 1003 H atau 1594 M.
Pengganti Madika Moputi adalah putra Dai Bole yaitu Pombang Rlipu yang diberi gelar Prins Yakut Kuntu Amas Raja Besar oleh Portugis.Setelah masa pemerintahan Pombang Rlipu yang terkenal. Kemudian Raja Pombang digantikan oleh Sultan Poondu.
Sultan Poondu banyak melakukan perlawanan terhadap Portugis pada akhirnya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1770. Sultan Poondu di gantikan oleh Dinasti Mokoapat, dengan silsilah sebagai berikut:
1.Sultan Undain
2.Datumimo (1804 – 1810)
3.Mokoapat (1810 – 1818)
4.Ndubu II
5.Takuloe
6.Datumula (1839 – 1843)
7.Elam Siradjudin (1843 – 1857)
8.Modeiyo (wakil 1857 – 1858)
9.Lahadung (1858 – 1864)
Dilanjutkan oleh Dinasti Turubu/Turungku yaitu:
1.Turubu/Turungku (1864–1890)
2.Haji Patra Turungku (1890 – 1899)
3.Datu Alam Turungku (1899 – 1914)
4.Haji Akhmad Turungku (1914 – 1947)
5.Mohammad Aminullah Turungku (1947 – 1997)
6.Mahmud Aminullah Turungku (1997–sekarang)
II. B. Suku Buol dan Wilayah Ulayat
Suku Buol berdiam di Propinsi Sulawesi Tengah bagian utara, berbatasan dengan Sulawesi Utara
(sekarang propinsi Gorontalo). Daerah ini dikelilingi oleh pegunungan. Wilayah kediaman orang Buol meliputi lima di antara 11 kecamatan di Kabupaten Buol Tolitoli, yakni kecamatan Biau, Momunu, Bokat, Bunobugu, dan Paleleh. Dengan demikian lima wilayah kecamatan tersebut merupakan wilayah ulayat masyarakat suku Buol, yang merupakan satu-satunya suku yang ada di kabupaten Buol Sulawesi Tengah.
II. C. Struktur Kelembagaan Masyarakat Buol.
Struktur Lembaga tersebut adalah: Ta Bwulrigon, Ta Mogutu Bwu Bwulrigon, Ta
Momomayungo Bwu Bwulrigon, Ta Momulrigo Bwu Bwulrigon .
Fungsi dari kelembagaan ini adalah:
1. Ta Bwulrigon artiya orang yang diusung, adalah sesorang yang diangkat menjadi kepala pemerintahan adat beserta pembantunya berfungsi untuk mengurus urusan-urusan
pemerintahan dan kemasyarakatan.
2. Ta Mogutu Bwu Bwulrigon artinya pembuat usungan, adalah badan yang berfungsi untuk membuat peraturan atau pengambil keputusan sekaligus memilih kepala pemerintahan.
3. Ta Momomayungo Bwu Bwulrigon artinya orang yang memayungi usungan, berfungsi untuk pengayom masyarakat dan penegak hukum adat/pemangku adat yang menerapkan hukum Duiyano Butako.
4. Ta Momulrigo Bwu Bwulrigon artinya pengusung usungan, adalah seseorang yang berfungsi untuk memastikan seluruh masyarakat adat agar taat dan patuh terhadap hukum adat.
Aturan/hukum adat dijalankan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat. Selanjutnya dalam beberapa kebijakan yang akan diambil, dimusyawarah dalam setiap kelompok masyarakat. Bokidu merupakan lembaga untuk mengambil kebijakan dan memutuskan setiap persoalan yang dihadapi.
II. D. Sistim Penguasaan Lahan oleh Masyarakat.
Sistem penguasaan wilayah ulayat atas tanah, dimiliki dan dikelola secara kelompok berdasarkan garis keturunan/marga. Untuktetap menjaga kesuburan tanah, dan untuk mendapatkan hasil produksi pertanian yang baik, sistem ladang berpindah merupakan cara pertanian masyarakat, tetapi setiap lahan yang ditinggalkan akan digunakan kembali dan biasanya akan kembali dibuka untuk perkebunan setelah lahan sudah menjadi doumi/buni
(hutan muda). Untuk megetahui wilayahnya masing-masing biasanya kelompok masyarakat tersebut menandai dengan tanaman tahunan, seperti durian, nangka, rambutan, langsat, kelapa, mangga, kapas, kopi, dll.
Sistem penguasaan lahan dilakukan secara kelompok/komunal dengan kemampuan dan Distribusihasil pertaniannyadidasarkan atas kebutuhan setiap keluarga dalam kelompoknya masing-masing, sehingga untuk keluarga yang anggotanya lebih besar akan berbeda penerimaannya dengan anggota keluarga yang lebih sedikit jumlahnya. Dalam pembukaan hutan untukberladang terdapat juga larangan-larangan yang harus ditaati
oleh setiap kelompok yang membuka lahan untuk bertani, seperti pembukaan hutan tidak boleh dilakukan terlalu dekat dengan kuala, mereka meyakini jika pembukaan lahan terlalu dekat dengan kuala bisa menyebabkan longsor dan banjir.
Palrima adalah orang yang dituakan dalam menunjukkan hutan yang boleh dibuka dan menetapkan larangan-larangan dalam membuka hutan untuk perladangan. Palrima juga bertugas untuk mengusir roh jahat dan semua jenis binatang yang berbisa.
Dalamberladang masarakat sudah memiliki kemampuan untuk memprediksi kapanmenetapkan waktu untuk menanam, seperti menunggu datangnya yayukan (bintang woluku), masyarakat meyakini bahwa ketika ada yayukan, maka curah hujan akan datang dan hama tanaman tidak ada. Budaya ini ditetapkan oleh orang yang dituakan dan menjadi panutan masyarakat dengan sebutan Panggoba. Panggoba juga diyakini memiliki kemapuan untuk mengobati dan mengusir hama tanaman. dalam mengusir hama dan mengobati tanaman biasanya Panggoba melakukan ritual, membakar kanaman (kemenyan), lalu menancapkan Uvbut tumbang (kuncup daun sagu) dan Uvbut pawyuan (pucuk batang bambu kecil) di setiap sudut lahan yang terkena hama. selama 3 hari ladang tidak boleh di didatangi oleh siapapun termasuk oleh pemiliknya sekalipun.
Masyarakat suku Buol mengenal berbagai kearifan adat yang merupakan kebiasaan dan berhubungan dengan perlindungan sumber daya alam, baik berupa tanah, air, maupun hutan. Mayarakat adat juga percaya bahwa alam gaib/religi berperan dalam memberikan kesuburan tanah dan kesejateraan bagi masyarakat sehingga mereka terbiasa melindunginya dengan melakukan upacara persembahan dan sajian kepada leluhur mereka.
III. Sejarah Tanah Ulayat Di Hulu Unone Hulu Umbadudu dan Hulu Biau
Tanah ulayat yang berada di wilayah Hulu Unone, Hulu Biau, dan wilayah Hulu Umbadudu,
memiliki Sejarah penguasaan yang berbeda-beda.
A. Sejarah Penguasaan Tanah di Wilayah Hulu Unone
Pada zaman penjajahan belanda sekitar tahun 1900 Moyanggato orang pertama yang memimpin kelompok membuka lahan di kogongoan (hutan) di sekitar daratan kuala lantikadigo. Kemudiandiikuti oleh kelompok-kelompok/komunal yang dipimpin oleh Marjun Kuntuamas, Daeboleh Husain, Dosu Manggula, Hadari Mandula, Panggig/Kakai Ako, Talude aezia, Pana’a, Pabunggara, Kulor Kanoli, Daura, Banji/Kakai Dumo, Giteng, Ram Kanoli, Day Mataso Iman, Bombo Salakea, Rutaban.
Pembukaan lahan tersebut dilatar belakangi oleh potensi kesuburan tanah,pada setiap wilayah penguasaan oleh kelompok diberi nama seperti Tonona, Bulili, Buyanon Tumbang,Tinomuyang, bokat, Tuliabu, Malrebung, Giteng, Buyano panggig/Kakai Ako, Pinit, Bukilata, Polapi dan Unggag Meelam, Tabone, Dugian, Popaya, Lombituk.
Seiring dengan bertambahnya jumlah komunal yang bermukim, maka pada tahun 1911 terbentuk sebuah perkampungan dan pemerintahan dengan nama kampung Kedudugon, yang menjadi kepala kampung pada saat itu adalah menantu dari Moyanggato yakni Dauwara Balaban alias Tiam Dondi.
Pada tahun 1916 perkampungan bergeser sedikit kearah Utara,dan nama kampung berubah menjadi Bokat Kupo dengan kepala kampung waktu itu adalah Ram Kanoli. Selanjutnya Pada tahun 1930an perkampungan kembali berpindah kearah utara lagi dengan nama kampung berubah menjadi Kantanan 2 , yang menjadi kepala kampung masih Ramkanoli. Kemudian pada tahun 1941 nama kantanan 2 diganti menjadi Desa Unone dengan kepala
desa pertama pada waktu itu Tango Kanoli. Bekas kampung Kodudugon dan Bokat Kupo tetap dijadikan lahanberladangdan lahan sawah kering (padi ladang) tetapi mayoritas menjadi kebun rumpun sagu sebagai makanan pokok masyarakat ketika itu, dan wilayah tersebut diberi nama Hulu Unone .
Didokumentasikan dari wawancara dan FGD Masyarakat Buol
B. Sejarah Tanah Di Wilayah Hulu Umbadudu
Hulu Umbadudu awalnya lokasi tempat masyarakat Boul membuat perahu dan mengambil Rotan.
Pada tahun 1930, Hulu Umbadudu di kelola menjadi lahan pertanian secara berkelompok berdasarkan garis keturunan yang dipimpin oleh Lasuma alias Kai Gili , Salim alias Kai Hau , Mahadali alias Buya , Lasiripi alias Tiambaci , Dai Pumbung alias Pedu, Panjara Todael alias Tiam Siaman dan To’u alias Ti Boydai . Kelompok-kelompok masyarakat tarsebut berasal darikampung Taluan, Lamadong, Tongon, Potugu dan Puji Mulyo.
Setiap wilayah yang dikuasai diberi nama serta memiliki arti sendiri-sendiri seperti wilayah Maniala didi yang artinya (kuala kecil) , Bundoyogit yang artinya Kuala atau sungai nyamuk, sebab lahan yang dibuka dekat dengan sungai yang banyak terdapat nyamuk hutan, ada juga lahan yang diberi nama Bokat Botu yang memiliki arti batu besar di tengah kuala (sungai), sebab lahan tersebut dekat dengan sungai yang terdapat batu besar ditengahnya. Lahan dengan nama Kamayangan yang artinya hamparan luas, ada juga lahan yang diberi nama Potanga yang artinya kuala (sungai) kecil bercabang, sebab lahan tersebut dekat dengan kuala bercabang, lahan dengan nama Doyangon yang artinya banyak sarang kelelawar, karena arealnya banyak sarang kelelawar, nama wilayah tambe diberikan karena wilayah tersebut ditemukan banyak terdapat kayu yang bernama tembe , ada areal yang diberi nama Butak Popaya yang artinya kuala (sungai) pepaya, areal dengan nama Butak Kuehasan diberikan karena nama orang tersebut diyakini sebagai orang pertama kali yang mandi disuangai dekat wilayah yang dibuka, nama Dopiyan diberikan untuk areal wilayah dekat dengan kuala yang terdapat banyak buaya berkembang biayak,Nama Angob diberikan terhadap wilayah yang dibuka dekat dengan goa dalam sungai untuk sembunnyi buaya, Bonduyobuta artinya air terjun tidak berbatu.Setelah menguasai lahan kelompok-kelompok tersebut, memutuskan untuk bermukim di wilayah Hulu Umbadudu untuk mengelolah lahan karena memberikan penghidupan yang lebih baik. Maka semakin banyakkelompok masyrakat yang mengikutinya.Pada tahun 1971, terdapat kebijakan pemerintah yang melakukan penataanperkampungan.
Masyarakat yang bermukim di Hulu Umbadudu diminta untuk kembali ketempat desa asalnya, tetapi masyarakatmenolak untuk pindah. Pada tahun 1973 masyarakat di paksa meninggalkan pemukimannya dengan cara membakar rumah oleh aparat pemerintahyang kemudian berhasil mengembalikan masyarakat ketempat desa asalnya. Kemudian mereka menempati desa sebelumnya di Desa Momunu, Desa Taluan,
Desa Pinamula, Desa Pujimulio, Desa Potugu, Desa Tongon, Desa Lamadong I dan Desa Lamadong II. Tetapi masyarakat tetap berladang di wilayah Hulu Umbadudu walaupun harus setiap hari pulang pergi dari Desake Hulu Umbadudu untuk berladang.
Pada tahun 1982, masyarakat kembali membangun pondok-pondok di wilayah hulu umbadudu dan bermukim, yang dipimpin langsung oleh Bpk. Aminullah A. Taumbung (Kades Lamadong II), dan Bpk. Kamarudin Umar ( Kades Taluan ) dan menetap dan berkebun sampai tahun 1993.
C. Sejarah Tanah di Wilayah Hulu Biau
Sejarah tanah wilayah Hulu Biau merupakan lahan perkebunan masarakat didesa biau pemayagon, bengkudu, kodolagon, guamonial, wakat, diat dan buol. pada tahun 1943 jepang masuk diwilayah gorontalo, saat itu buol termasuk salah satu wilayah administrasinya. Politik kolinial jepang mempengaruhi sistem pertanian di wilayah Hulu biau, sebab jepang memaksa hasil pertanian diserahkan ke kolonial. Sehingga untuk tetap mempertahankan kehidupanya masarakat tersebut lebih intesif mengelola tannha pertanian diwilayah hulu biau.
Pada masa penjajahan jepang Intensitas pertanian di lokasi tersebut ditunjukan dengan menanam tanaman padi, jagung, kapas, dsb. Sebagai bentuk perlawanan gterhadap penjajah Hasil dari pertanian diwilayah tersebut tidak diserahakan ke penjajah.Selain itu, masarakat adat diwilayah tersebut menyusun strategi melawan penjajahan Jepang.
Sehingga untuk menunjukan bahwa lokasi tersebut telah di kuasai oleh masyarakat adat maka di buatlah nama – nama, seperti Tonona yang berarti kayu linggua, Tiampariu, Timo Muyang yang berarti bambu, Mbutong suangai yang airnya bau, Kuala Binde , Marisa, Tombidi, Durin. Sedangkan kelompok-kelompok yang menguasi dan mengolah lahan di Hulu Biau ketika itu adalah, Mukoapat, Mo’u Tahuni, Hamit, Kuliling Mukoopat, Sulaeman To’uruju, Timumun, Lijana Ontoh, Kai Husa ,Halid alias Tikai If, Dotu Tinggi alias kai dotu, Ibrahim alias Kai Puo, Yusup alias Boonda Mou, Mentemas alias Kai Lau, Toumili alias Boyuleu Yang pada gilirannya kemudian kelompok-kelompok masyarakat tersebut semakin bertambah seiring perkemba
ngan populasi anggota keluarga dalam kelompok masyarakat.
IV. Skema Penghancuran Hak Ulayat Masyarakat Buol
Pada perkembangannya, masyarakat adat di berbagai tempat termasuk masyarakat suku bangsa Buol mengalami kondisi yang tersisikan dalam pembangunan, sering kali dengan alasan “demi kepentingan umum” hak-hak mereka dikorbankan untuk mencapai tujuan pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah. Sejak pemerintahan orde Baru berbagai undang-undang dan peraturan di buat sebagai upaya membatasi keberadaan masyarakat adat terhadap wilayahnya. Setidaknya dilahirkannya UU No. 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, UU No. 5 tahun 1974 tentang Pemerintah Daerah, secara khusus di propinsi Sulawesi Tengah terdapat Surat Edaran Gubernur pada tahun 1992 yang menyatakan Pencabutan Status Tanah Kepemilikan Komunal.
Hal ini kemudian menghancurkan pengakuan dan hak atas wilayah terhadap masyarakat Buol yang pada perkembangan saat ini melahirkan konflik antara perusahaan PT. Hardaya Inti Plantations dengan Masyarakat Buol, karena terampas tanahnya untuk lahan pekebunan kelapa sawit.

Lobster Air Tawar Cherax quadricarinatus

1.                  PENDAHULUAN
1.1              Latar belakang
Sektor Kelautan dan Perikanan dengan potensi sumber daya alam yang sangat besar diharapkan dapat menjadi sektor unggulan dalam pemulihan ekonomi. Usaha peningkatan produksi ikan melalui pengembangan teknologi budidaya air tawar diarahkan pada pembesaran, pembenihan, pelestarian sumber daya ikan dan lingkungan serta pengendalian hama dan penyakit ikan. Diharapkan, dengan tersedianya induk dan benih melalui teknik-teknik pembesaran dan pembenihan secara terkendali dapat menghasilkan induk dan benih yang bermutu.
Salah satu aspek budidaya yang sangat berpeluang dalam menunjang pemulihan ekonomi dan menjadi produk unggulan sebagai komoditas pangan (dikonsumsi)  yaitu  lobster air tawar. Hal ini di sebabkan karena belum banyak pembudidaya yang menggeluti budidaya lobster air tawar. Sementara itu, prospek pasar luar negeri masih sangat terbuka lebar. Tidak sedikit negara di Asia dan Eropa  yang mengimpor lobster air tawar untuk kebutuhan dalam negerinya. Australia sebagai salah satu negara penghasil lobster air tawar, hanya mengekspor 35 % dari hasil produksinya ke Singapura, Hongkong, Taiwan dan Korea. Sisanya digunakan untuk memenuhi pasar dalam negeri (Iskandar, 2006).
Secara teknis, budidaya lobster air tawar baik pembenihan maupun pembesaran lebih mudah dibudidayakan dibandingkan dengan jenis udang air tawar lainnya. Wadah pemeliharaannya pun tidak perlu luas. Lobster air tawar tidak mudah terserang penyakit dan tidak mudah stres asalkan kebutuhan pakan, kualitas air dan oksigen terlarut terpenuhi dengan baik (Setiawan, 2006).
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan budidaya lobster air tawar. Hal ini dikarenakan iklim dan siklus musim di Indonesia sangat memungkinkan lobster dibudidayakan sepanjang tahun. Lobster air tawar, terutama jenis red claw dapat berkembang biak 4 – 5 kali dalam setahun. Sementara di Queensland (Australia) red claw hanya mampu berkembang biak dua kali setahun. Selain itu, di Indonesia juga kaya dengan sumber pakan alami bagi lobster sehingga dengan adanya pakan alami tersebut sangat memungkinkan lobster air tawar tumbuh dan berkembang biak dengan cepat (Kurniawan dan Hartono, 2007).
Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Tatelu mempunyai tugas untuk  memproduksi dan mendistribusikan benih dan induk yang unggul serta memberikan informasi teknologi, pembimbingan, pengarahan, pemonitoran hambatan dan cara penanggulangannya kepada para pembudidaya lobster air tawar setempat dan di Indonesia pada umumnya.
Oleh sebab itu, penguasaan teknik pembenihan lobster air tawar diharapkan dapat memenuhi tuntutan tersebut. Kegiatan magang dapat melatih mahasiswa untuk belajar dan mengetahui teknis pelaksanaan kegiatan akuakultur di tingkat yang paling awal yaitu pembenihan. Sehingga keterampilan yang diperoleh dapat dijadikan modal untuk mengembangkan usaha-usaha akuakultur dikemudian hari. 




1.2       Tujuan
Kegiatan magang di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Tatelu bertujuan untuk :
1. Mengetahui prosedur dan teknik pembenihan Lobster Air Tawar (Cherax qudricarinatus).
2. Menambah pengetahuan dan melatih keterampilan mahasiswa dalam menjalankan kegiatan   pembenihan Lobster Air Tawar.
3.  Sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan studi pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi.

1.3       Tempat dan waktu
Kegiatan magang dilaksanakan di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Tatelu Desa Tatelu Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara, Propinsi Sulawesi Utara. Waktu pelaksanaannya mulai tanggal 12 Februari 2008 –  15 Maret 2008.









2.         TINJAUAN  PUSTAKA
2.1       Klasifikasi
Lobster air tawar merupakan salah satu genus dari kelompok udang (Crustacea) yang hidupnya hanya di air tawar. Lobster air tawar termasuk dalam genus cherax dan beberapa nama internasional dari lobster air tawar adalah crayfish, crawfish dan crawdad. Terdapat tiga famili lobster air tawar, yakni famili Astacidae, Cambaridae dan Parastacidae. Famili Astacidae dan Cambaridae  tersebar dibelahan dunia bagian utara, sedangkan famili Parastacidae menyebar di dunia bagian selatan, seperti Australia, Indonesia bagian timur, Selandia Baru dan Papua Nugini.
Salah satu spesies lobster air tawar yang telah dibudidayakan adalah lobster air tawar capit merah atau redclaw (Cherax quadricarinatus). Spesies ini merupakan salah satu spesies endemik dari kelompok udang yang pada awalnya hidup di sungai, rawa, atau danau di kawasan Queensland Australia (Setiawan, 2006).
Secara ilmiah klasifikasi lobster air tawar capit merah (redclaw) adalah sebagai berikut :
     Filum  : Arthropoda
Sub Filum  : Crustacea
                  Kelas  : Malacostrada
 Ordo  :Decapoda
                                 Famili  : Parastacidae
   Genus  : Cherax
         Spesies  : Cherax quadricarinatus (Anonimous, 2006)
2.2       Morfologi
            Lobster tidak memiliki tulang dalam (Internal skeleton) dan seluruh tubuhnya ditutupi oleh cangkang yang terbuat dari zat tanduk. Cangkang ini akan mengelupas secara periodik seiring dengan pertumbuhan tubuhnya. Tubuh lobster dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala (chepalothorax) dan perut (abdomen). Bagian kepala ditutupi cangkang yang disebut karapak. Fungsinya untuk melindungi otak, insang, hati dan lambung. Bagian perut yang terdiri dari enam ruas ini akan berkembang setiap kali mengalami pergantian kulit atau molting. Bagian kepala dan bagian perut dihubungkan dengan bagian yang bernama subchepalothorax. (Iskandar, 2006).
Lobster air tawar red claw (Cherax quadricarinatus) mempunyai ciri khusus yaitu warna tubuhnya hijau kemerahan. Pada lobster air tawar yang jantan terdapatnya  ciri khusus berupa garis merah tajam pada capitnya yang akan muncul setelah lobster tersebut telah berumur lebih dari 7 bulan dan capitnya diselimuti oleh duri-duri halus. Berbeda dengan lobster air tawar betina selain tidak adanya garis merah pada capitnya, ciri dari lobster betina dapat dilihat pada ukuran capitnya yang lebih kecil dibanding capit pada lobster air tawar jantan. Lobster air tawar red claw ini dapat mencapai ukuran sampai 50 cm dengan bobot 800 – 1000 gram/ekor (Bachtiar, 2006).
 selanjutnya email ke tauvandkpbuol@gmail.com


makalah pembenihan kerapu tikus seminar I FPIK unsrat


1.         PENDAHULUAN
Indonesia adalah salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, dengan sekitar 17.508 buah pulau yang membentang sepanjang 5.120 km dari timur ke barat sepanjang khatulistiwa dan 1.760 km dari utara ke selatan. Luas daratan negara Indonesia mencapai 1,9 juta km2 dan luas perairan laut tercatat sekitar 7,9 juta km2. Indonesia mempunyai panjang garis pantai sekitar 81.791 km, yang menempati urutan kedua terpanjang di dunia setelah Kanada (Supriharyono, 2002).
            Sektor kelautan dan perikanan dapat dijadikan sebagai prioritas utama pembangunan Indonesia masa depan dalam rangka menggerakkan kembali roda ekonomi nasional kita yang telah lama mengalami krisis ekonomi. Hal ini sangat penting mengingat sektor daratan yang selama ini dijadikan sebagai prioritas utama pembangunan nasional sudah mengalami kejenuhan, disamping itu sektor kelautan dan perikanan mempunyai potensi yang besar untuk di kembangkan (Riyadi, 2004).
Sektor kelautan dan perikanan selain menyokong kebutuhan protein hewani bagi masyarakat, juga membuka lapangan kerja dan menambah pendapatan masyarakat. Hal ini dapat di lihat dari adanya stabilitas sosial ekonomi masyarakat yang cukup menonjol, terutama di daerah pesisir. Bahkan, dewasa ini terjadi peningkatan devisa negara dari tahun ke tahun melalui ekspor komoditas perikanan. Salah satu Ikan laut komersial yang sekarang banyak di budidayakan dan merupakan komoditas ekspor yaitu ikan kerapu (Sunyoto, 1994).                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               
            Ikan kerapu (Epinephelus sp) umumnya dikenal dengan nama Grouper merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai peluang baik dipasaran domestik maupun pasar internasional, selain itu ikan kerapu mempunyai nilai jual tinggi. Ikan kerapu mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk dibudidayakan karena dapat diproduksi massal untuk melayani permintaan pasar ikan kerapu dalam keadaan hidup (Anonimous, 1996).
            Ikan kerapu yang umumnya dikonsumsi dan mempunyai nilai ekonomis tinggi diperoleh dengan cara ditangkap atau telah dibudidayakan adalah Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis), Kerapu Lumpur (Epinephelus tauvina), Kerapu Macan (E. fuscoguttatus), Kerapu Sunu (Plectropomus macalatus, P. leopardus), Kerapu Balong (Epinephelus merra) (Kordi, 2005).
            Kerapu Bebek biasa juga disebut kerapu Tikus merupakan salah satu jenis ikan kerapu yang mempunyai prospek pemasaran cukup baik dan harganya mahal terutama untuk pasar ekspor. Kalau kita perhatikan ditingkat pengumpul ikan kerapu, maka persentase kerapu bebek yang tertangkap sangat kecil dibandingkan dengan kerapu jenis lain. Hal ini yang menyebabkan kerapu tikus sulit di jumpai dipasaran. Permintaan pasar akan komoditas ini stabil bahkan cenderung meningkat. Dengan demikian pengembangan usaha budidaya kerapu bebek mempunyai prospek yang sangat cerah. Namun demikian masih menjadi perhatian utama adalah ketersediaan benih yang belum dapat terpenuhi baik jumlah, mutu maupun kesinambungannya. Benih yang berasal dari alam ketersediaannya belum dapat dipastikan(Anonimous, 1999).
            Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas “Pembenihan Ikan Kerapu Bebek” mulai dari Penentuan Lokasi, Penanganan Induk, Pemijahan, Produksi telur, Penetasan Telur, Pemeliharaan Larva sampai pada Pengemasan dan pengangkutan benih.


2.         BIOLOGI KERAPU BEBEK
2.1.                  Klasifikasi
            Menurut Sunyoto (1994), Ikan kerapu terdapat dalam 46 spesies yang hidup di berbagai tipe habitat. Dari jumlah tersebut berasal dari 7 genus, yaitu Aethaloperca, Anyperodon, Cephalopholis, Chromileptes, Epinephelus, Plectropomus dan Variola. Dari ketujuh genus tersebut, genus Chromileptes, Epinephelus, dan Plectropomus yang sekarang digolongkan ikan komersial, dan mulai dibudidayakan. Ikan kerapu Bebek, dalam perdagangan internasional dikenal dengan nama Humback seabass, Polka-dot grouper, ataupun Hump-backed rocked.
            Ikan kerapu bebek dalam perdagangan Internasional mendapat julukan sebagai Panther fish karena di sekujur tubuhnya dihiasi bintik-bintik kecil bulat berwarna hitam. Kerapu Bebek selain ikan konsumsi, yang berukuran kecil mempunyai bentuk dan penampilan yang menarik sebagai ikan hias akuarium, oleh karena itu kerapu bebek mempunyai nama lain yang cukup populer dan cantik yaitu Grace Kelly (Antoro dkk. dalam Anonimous, 1999).
            Menurut Randall (1987) klasifikasi ikan kerapu bebek adalah :
Phylum : Chordata
      Subphylum : Vertebrata
                     Class : Osteichtyes        
                        Subclass : Actinopterigi
                                    Ordo : Percomorphi
                                          Subordo : Percoidea         
                                                 Family : Serranidae
                                                            Subfamili : Epinephelinae
                                                                          Genus : Cromileptes
                                                                                    Spesies : Cromileptes altivelis
2.2.      Morfologi
Ikan ini memiliki bentuk badan yang lonjong dan agak gepeng. serta bagian kepala memiliki bentuk yang mendatar, sehingga menyerupai kepala bebek. Moncongnya kelihatan meruncing seperti moncong tikus. Sirip punggung tersusun dari 10 jari-jari keras dan 17-19 jari-jari lunak, sirip dubur terdapat 3 jari-jari keras dan 10 jari-jari lunak. Ikan ini bisa mencapai ukuran panjang hingga 70 cm atau lebih namun yang umum ditangkap dan dikonsumsi kebanyakan berukuran 30-50 cm (Kordi, 2005).
 Tubuh ikan ini memiliki warna dasar abu-abu dengan bintik-bintik hitam berukuran cukup besar dan terbatas jumlahnya. Warna badan bagian atas merah sawo matang, dibagian bawah keputihan dan pada seluruh tubuh baik kepala sampai ujung ekor termasuk siripnya, terdapat noda-noda berwarna coklat tua yang menyebar secara merata (Murtidjo, 2002).
                 11                                                           12
           10
      9                                                                                                                 1
                                                                                                                    2
                                                                                                                   3
                                                                                               6      4
                           8                                                       7                  5
Gambar 1. Ikan Kerapu Bebek (Chromileptes altivelis)
Ket. Gambar :       1. Mata                              7.   Sirip perut
                              2. Hidung                          8.   Sirip dubur
                              3. Mulut                             9.   Sirip ekor
                              4. Insang                            10. Gurat sisi  
                              5. Tutup insang                  11. Sirip punggung jari-jari lunak
                              6. Sirip dada                      12. Sirip punggung jari-jari keras

Morfologi kerapu bebek (Akbar dan Sudaryanto, 2001)
2.3.      Habitat
            Pada umumnya, penyebaran ikan kerapu dapat dikatakan identik dengan penyebaran terumbu karang, daerah tersebut merupakan habitat utamanya (Murtidjo, 2002). Kerapu muda biasanya hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5 – 3 meter. Setelah menginjak  dewasa berpindah ke perairan yang lebih dalam, yakni di kedalaman 7 – 40 meter. Biasanya perpindahan ini berlangsung pada siang dan sore hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989 dalam  Subyakto dan Cahyaningsih, 2005).
            Parameter-parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu temperatur antara 24-31 oC, salinitasnya antara 30-33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih besar dari 3,5 ppm dan pH antara 7,8-8,0 (Yoshimitsu, 1986 dalam Anonimous, 1999).
           











3.         PEMBENIHAN IKAN KERAPU BEBEK
3.1               Penentuan Lokasi
            Lokasi pembenihan (hatchery) harus dipilih lebih dekat dengan sumber air laut dan air tawar, bersih, tidak tercemar, bebas banjir, serta dapat ditunjang dengan sarana-sarana yang memadai seperti transportasi, listrik, telepon dan dekat dengan keramba jaring apung sebagai tempat penyediaan induk ikan. Keramba jaring apung merupakan cara yang aman untuk memelihara induk atau menyiapkan calon-calon induk. Areal lokasi mencukupi untuk tempat bak-bak pemijahan ikan, tempat pemeliharaan larva, tempat penyediaan jasad pakan, maupun kantor dan gudang yang disesuaikan dengan skala usaha (Sunyoto dan Mustahal, 1997).
            Beberapa parameter kimia yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi meliputi oksigen terlarut (DO), salinitas, pH, BOD, COD, amoniak, nitrit, nitrat, logam berat, serta bahan-bahan polutan. Beberapa parameter fisika air yang perlu diperhatikan adalah kecerahan, kekeruhan, suhu, warna, bau, benda terapung dan padatan tersuspensi. Sedangkan parameter biologi perairan yang menjadi pertimbangan adalah kesuburan perairan yang meliputi kelimpahan dan keragaman fitoplankton dan zooplankton, keberadaan mikroorganisme patogen dan biota lain yang ada di perairan (Al Qodri dkk dalam Anonimous,1999).
            Menurut Sunyoto dan Mustahal (1997), Faktor yang penting dan perlu diperhatikan dalam penetuan lokasi ini yaitu terdapatnya pasokan air laut dan air tawar. Air laut yang akan digunakan untuk pemeliharan induk atau sebagai tempat pemijahan harus bersih dan jernih dengan kadar garam yang selalu konstan sekitar 30-35 ppt. Pemasokan air tawar diperlukan untuk mengontrol kadar garam, terutama untuk pemeliharaan pakan alami yang membutuhkan kadar garam lebih rendah dari air laut. Di samping itu, air tawar sangat diperlukan untuk mencuci peralatan dan kebutuhan konsumsi.
            Penempatan sarana-sarana yang akan mendukung pengoperasian produksi benih perlu diperhatikan dan sebaiknya memperhitungkan fungsi masing-masing sarana dengan seefisien mungkin. Hindari penempatan sarana yang dapat mengganggu fungsi sarana yang lain, misalnya penempatan ruang mesin diusahakan sejauh mungkin dengan tempat bak pemijahan dan bak-bak pemeliharaan larva. Alasannya, suara bising dari genset dapat menggagalkan pemijahan ikan-ikan atau pemeliharaan larva. Demikian juga tempat-tempat pembuangan air harus disalurkan dan dibuang sejauh mungkin dari tempat pemasukan air laut.
             Salah satu contoh tata letak pada sebuah panti benih (Hatchery) yang  ideal seperti dalam gambar 2 sebagai berikut:
 


9
 
8
 
7
 

 
33


















 





Gambar 2. Tata letak pembenihan ikan kerapu tikus
Keterangan :   
1. Rakit keramba jaring apung ; 2. Kamar pompa air dan blower ; 3. Kolam air laut ; 4. Bak pemeliharaan induk; 5. Bak pengendapan; 6. Bak filter; 7. Kultur chlorella; 8. Kultur rotifera; 9. Kantor; 10. Bak pemijahan; 11. Bak inkubasi; 12. Bak larva;  13. Bak penetasan artemia; 14. Laboratorium; 15. Ruang plankton; 16. Gudang pakan; 17. Ruang rapat; 18. Ruang tamu (Sunyoto dan Mustahal, 1997).
3.2       Penanganan Induk  
3.2.1    Seleksi Induk
Ada dua cara untuk memperoleh induk ikan kerapu yang siap dipijahkan. Pertama melalui usaha pembesaran dari kecil dengan metode pembesaran di jaring apung atau di tambak, dan yang kedua dengan cara memperoleh induk dari alam dan kemudian di tampung di tempat penampungan. Selanjutnya, keberhasilan suatu usaha pembenihan sangat ditentukan pada ketersediaan induk yang cukup, baik jumlah maupun mutunya. Ikan yang dipilih sebagai calon induk sebaiknya telah mencapai ukuran dewasa (lebih dari 1,5 kg untuk induk betina dan 3 kg untuk jantan). Semakin berat induk, semakin berat gonad, sehingga produksi telurnya juga semakin meningkat. Ikan kerapu bebek bersifat Hermaprodit protogini (Protogynous hermaphrodite). Artinya setelah mencapai ukuran tertentu ikan akan berganti kelamin dari betina menjadi jantan. Ikan kerapu bebek transisi dari betina ke jantan setelah mencapai umur 2,0 – 2,5 tahun (Kordi, 2005).
Pengecekan jenis kelamin induk lebih baik dilakukan menjelang bulan gelap. Induk berkelamin jantan akan dengan mudah dapat diketahui yaitu dengan cara mengurut pada bagian perutnya maka akan keluar cairan putih susu atau sperma. Sedangkan induk betina dapat dicirikan dengan membesarnya bagian perut ikan, apabila disedot dengan alat kanulasi akan didapat butiran telur (Ketut Sugama dkk dalam Anonimous, 2001).
3.2.2        Pemeliharaan Induk
Induk dipelihara pada tempat yang telah ditentukan yaitu bak dengan ukuran 100 m3 di darat atau pada keramba jaring apung di laut. Induk yang baru perlu waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru, dan dibutuhkan waktu untuk beradabtasi 2 – 3 hari, keberhasilan induk beradaptasi ditandai dengan induk mau makan.
Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan di laut yaitu keramba jaring apung dengan ukuran perunit 8×8 m dan lubang untuk memasang jaring 3×3 m, sedangkan voleme jaring yang digunakan adalah 3×3×3 m3 dengan mata jaring 2 inch. Pemeliharaan induk di darat menggunakan bak semen, bak sebaiknya berbentuk bulat dengan kedalaman tidak kurang dari 2,5 m yang dilengkapi dengan aerasi, saluran masuk air dari sisi yang satu sedangkan saluran pembuangan dari tengah dasar bak dan dari sisi yang berlawanan. Bentuk ini sangat baik untuk pergantian air, memberikan kesan luas bagi ikan dan memudahkan dalam penanganan. Pergantian air dilakukan dengan sistem air mengalir sepanjang hari sehingga terjadi pergantian air sebanyak 200 – 400 % dengan kepadatan induk pada bak yaitu 1 – 3 kg/m2 sedangkan untuk induk yang dipelihara di jaring apung pergantian jaring dilakukan satu kali dalam sebulan atau dipercepat bila jaring sudah kotor dengan kepadatan induk pada jaring apung adalah 1 – 1,5 kg/m3 air media.
3.2.3. Pematangan Gonad
            Kualitas pakan yang diberikan pada induk kerapu bebek sangat berpengaruh terhadap tingkat kematangan gonad, sehingga pakan merupakan faktor penting bagi kebehasilan dalam proses pematangan gonad.
Induk diberi makanan berupa ikan segar antara lain cumi-cumi, layang, selar, japuh, lemuru. Jenis-jenis ikan ini mempunyai kandungan protein lebih dari 70 %. Pemberian protein yang tinggi sangat penting bagi tubuh ikan karena merupakan sumber pembangunan tubuh dan energi dapat diperoleh dari karbohidrat dan lemak. Pemberian pakan dapat dilakukan sampai kenyang yaitu berkisar antara  1 – 3 % dari total berat tubuh induk, dengan frekuensi pemberian pakan 1 kali sehari pada pagi atau sore hari (Sudaryanto dkk. dalam Anonimous, 1999).
Vitamin diberikan satu minggu sekali berupa 3 mg vitamin E yang berfungsi untuk memperlancar kerja fungsi sel kelamin, 1000 IU vitamin C untuk meningkatkan ketahanan tubuh dan mempercepat kematangan gonad, dan 1 – 2 mg vitamin B kompleks untuk meningkatkan nafsu makan ikan. Pemberian vitamin dengan cara mencampurkan pada pakan (Kordi, 2005).
3.3               Pemijahan
Pasangan induk yang telah matang gonad apabila dikumpulkan dalam satu tempat, pada waktunya akan terjadi pemijahan akan tetapi ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi pemijahan tersebut. Pertama adalah faktor teknis yang meliputi penanganan induk, seleksi induk dan metode yang digunakan, kedua adalah faktor nonteknis yang meliputi iklim, letak geografis dan kondisi lingkungan dimana induk berada.
Pemijahan kerapu bebek terjadi sepanjang tahun (12 kali) artinya waktu pemijahan ikan ini tidak tergantung pada musim. Ikan kerapu tergolong memijah secara ovipar, yaitu mengeluarkan telur ketika memijah dan perbandingan induk jantan dan betina yang akan dipijahkan adalah 1:1 dengan berat berkisar antara 1 – 4 kg. Metode pemijahan terbagi atas dua yaitu metode pemijahan secara alami dan metode pemijahan buatan. Metode pemijahan secara alami yaitu pemijahan dengan sistem manipulasi lingkungan dan sistem rangsangan hormon sedangkan  pemijahan buatan yaitu pemijahan dengan metode pengurutan (Stripping).


3.3.1.   Pemijahan Alami  Dengan Sistem Manipulasi Lingkungan
Pemijahan secara alami dengan sistem manipulasi lingkungan ini dilakukan pada bak dengan ukuran 100 m3. Kepadatan ikan pada bak pemijahan tidak lebih dari 5 ekor/m3 dengan pergantian air per hari minimal 100%. Pemijahan secara alami dengan sistem manipulasi lingkungan yaitu dengan teknik penjemuran dan air mengalir. Metode penjemuran dilakukan dengan cara menurunkan permukaan air pada siang hari sampai kedalaman 40 – 50 cm, selanjutnya pada sore hari permukaan air dinaikan dan dialirkan sepanjang malam. Cara ini bertujuan untuk menaik-turunkan temperatur berkisar antara 2 – 5 oC. Biasanya tiga bulan setelah perlakuan ikan akan memijah. Pemijahan terjadi pada malam hari antara pukul 22.00 – 02.00 dengan tingkat pembuahan antara 50 – 70 % (Sudaryanto dkk. dalam Anonimous, 1999).
3.3.2.       Pemijahan Alami Dengan Rangsangan Hormon
            Dalam beberapa kasus, ikan dalam bak pemijahan tidak dapat memijah secara alami. Hal ini terjadi karena kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan untuk proses pematangan gonad dan pemijahan. Oleh karena itu, perlu dilakukan rangsangan melalui penggunaan hormon untuk mempercepat pematangan gonad.
            Seperti ikan air tawar, hipofise juga dapat dilakukan pada ikan-ikan air laut. Namun sekarang telah ada gonadotropin dan sejenisnya yang telah diperdagangkan dalam bentuk ampul.  Sebagai contoh adalah HCG (human chorionic gonadotropin).  Hormon ini dapat diberikan kepada induk betina maupun jantan melalui suntikan ke badan ikan. HCG biasanya diproduksi dari plasenta mamalia (Sunyoto dan Mustahal, 1997).
            Penyuntikan dilakukan pada induk ikan yang telah mencapai tingkat tertiary globule oocytes (tingkat 4), yaitu bila diameter oocyte (bulatan-bulatan telur) telah mencapai 0,4 mm. Penyuntikan dilakukan pada pagi hari. Induk ikan dibius dengan obat bius seperti Polietilen glikol monofenil eter atau minyak cengkih. Penyuntikan hormon ke dalam tubuh ikan dilakukan pada bagian otot punggung (Intramuscular). Baik melalui selaput daging perut (Intraperitoneal), melalui rongga dada (chest cavity), maupun melalui pangkal sirip pectoral. Penyuntikan dilakukan dengan hormon gonadotropin atau HCG dan Puberogen dengan dosis masing-masing 250 – 500 IU (International Unit) dan 50 IU – 75 IU per kg bobot Induk. Penyuntikan dapat dilakukan 1 – 2 kali. Bila penyuntikan dilakukan 2 kali, maka selang waktu antara  penyuntikan pertama dan kedua adalah 24 jam. Bila pada malam harinya ikan belum memijah juga, maka dilakukan penyuntikan kedua yaitu 24 jam setelah penyuntikan pertama, dengan jenis hormon yang sama dan dosis dua kali lipat. Biasanya setelah penyuntikan, pada sore atau malam hari, induk akan memijah (Kordi, 2005).
3.3.3.       Pemijahan Buatan Dengan Metode Pengurutan (Stripping)
Metode pemijahan dengan cara pengurutan dilakukan bila sepasang induk ikan benar-benar matang gonad. Prinsip dasar metode ini adalah mencampurkan telur-telur dengan sperma dari sepasang induk dengan paksaan, dengan syarat induk-induk yang dipaksa untuk di pijat telah mencapai fase matang gonad. Fase matang gonad pada induk ikan betina, dicirikan dengan perut yang kelihatan besar/membengkak, sedangkan pada ikan jantan, terlihat adanya sperma/cairan yang keluar seperti air susu bila bagian perut ke arah bagian lubang kelamin di tekan sedikit saja. Metode srtipping ini, biasanya menghasilkan benih dengan kualitas dan kuantitas yang lebih rendah dibandingkan dengan kualitas benih yang dipijahkan secara alami. Perlakuan yang kurang hati-hati terhadap induk ikan pada saat stripping dapat menyebabkan kematian pada induk ikan (Kordi, 2005).
            Pencampuran telur induk betina dengan sperma induk jantan dilakukan dengan cara bagian perut dari arah depan ke belakang atau menuju ke arah lubang kelamin ditekan, kemudian sperma yang keluar diambil dengan alat sedotan atau alat suntik dan dicampurkan dengan telur-telur dari induk betina. Metode stripping di bagi dua, yaitu : metode kering (dry method) dan metode basah (wet method). Pada metode kering, wadah tempat menampung telur hasil pemijahan tanpa diberi air, sedangkan pada metode basah, wadah tempat penampungan telur diberi sedikit air.
            Pada metode kering, telur dan sperma diaduk menggunakan bulu ayam juga dapat menggunakan air yang mengalir. Sel telur dan sperma hasil stripping yang telah dicampur dibiarkan selama 10 menit. Setelah itu telur-telur dicuci dan setelah bersih segera dipindahkan ke dalam bak penetasan (Kundrori, 1997).
3.4.             Produksi Telur
            Ikan kerapu tikus betina menghasillkan telur dalam jumlah yang berbeda sesuai dengan ukuran tubuh. Induk yang lebih besar akan menghasilkan telur yang lebih banyak dibandingkan dengan yang lebih kecil. Untuk induk dengan berat badan 1,0 kg menghasilkan telur antara 200.000 – 300.000 butir dalam satu siklus pemijahan. Tingkat pembuahan yang dicapai adalah 50 – 70 % sedangkan tingkat penetasan mencapai 60 – 70 %.
            Telur yang dibuahi berwarna bening/transparan, melayang di badan air atau mengapung di permukaan air. Diameter telur 850 – 950 μ dan mempunyai gelembung minyak dengan diameter 170 – 220 μ. Telur yang dibuahi akan mengalami perkembangan lebih lanjut, terbentuk embryo dan menetas menghasilkan larva. Telur yang tidak dibuahi akan berubah warna menjadi keruh  atau putih dan mengendap di dasar bak (Sudaryanto dkk. dalam Anonimous, 1999).
3.5.      Penetasan Telur
3.5.1.   Inkubasi Telur
            Inkubasi telur bertujuan untuk membuat kondisi agar perkembangan embrio berlangsung dengan baik sehingga diperoleh larva yang berkualitas. Telur-telur fertil yang mempunyai sifat terapung dari hasil pemijahan secara alamiah maupun secara buatan (stripping) di tampung di dalam kantong jaring yang halus. Kantong jaring tersebut dapat dibuat dari kain yang halus atau plankton net dengan diameter jaring kurang dari diameter telur.
            Kantong jaring tersebut di masukan ke dalam bak-bak bulat berkapasitas 0,5 – 1 m3 air laut filter (air laut bersih). Air laut yang digunakan selalu mengalir pada tingkat 20 liter/menit sehingga terus terjadi pergantian air. Aerasi yang diberikan tidak terlalu kuat agar telur-telur menyebar merata (Sunyoto dan Mustahal, 1997).
3.5.2.   Penetasan Telur
            Penetasan telur dapat dilakukan dalam bak penetasan atau langsung dalam bak pembesaran larva. Bak penetasan dan bak larva dilengkapi aerasi dan diisi air laut yang telah disaring dengan saringan pasir. Kadar garam air laut untuk inkubasi berkisar antara 31 – 34 ppt dan suhu 26,8 – 28,9o C, dalam kondisi ini telur akan menetas setelah 16 – 18 jam pembuahan. Dikarenakan larva kerapu yang baru menetas sangat lembut dan rentan dengan sentuhan benda lain, maka disarankan untuk menetaskan telur langsung dalam bak pembesaran larva. Larva yang menetas bersifat planktonik sehingga harus diberi aerasi yang sangat lemah. Telur yang tidak menetas akan mengendap didasar bak dan sebaiknya langsung dibersihkan dengan penyimponan untuk menghindari berkembangnya bakteri (Ketut Sugama dkk., 1998).








Gambar 3. Perkembangan Telur Ikan Kerapu Bebek
Keterangan :
(1) Stadia Pembelahan 2 sel; (2) Stadia pembelahan 48 – 96 sel; (3) Stadia awal morulla; (4) Stadia awal Blastula; (5) Stadia pertengahan blastula; (6) Pembentukan embrio; (7) Blastpore; (8) Saat sebelum menetas; (9) Larva baru menetas (Subyakto dan Cahyaningsih, 2005).
3.6.Pemeliharaan Larva
Pemeliharaan larva kerapu dapat menggunakan bak semen bervolume 0,5 – 10 ton. Larva kerapu seperti jenis larva ikan laut yang lain tidak tahan terhadap perubahan lingkungan yang besar seperti : perubahan suhu, salinitas, pH air dan intensitas cahaya. Dalam pemeliharaan larva, keberhasilan larva untuk memanfaatkan pasokan pakan dari luar terutama pada saat cadangan makanan dari dalam tubuh sudah habis merupakan kunci bagi kelangsungan hidup bagi larva selanjutnya. Masa kritis pertama terjadi pada saat larva mulai buka mulut sampai saat kuning telur habis terserap. Oleh karena itu harus menyediakan pakan awal yang mempunyai ukuran lebih kecil dari ukuran bukaan mulutnya, dalam jumlah dan mutu nutrisi yang cukup (Shogo Kawahara, 2000).
            Menurut Sunyoto dan Mustahal (1997), sebelum larva ditebar, bak-bak untuk pemeliharaan harus disiapkan. Bak-bak diisi air laut yang telah difilter dengan jumlah kira-kira 80% dari kapasitasnya serta dipasok aerasi pada tingkat kecepatan rendah, artinya gelembung-gelembung udara yang keluar diusahakan sekecil mungkin, tetapi tidak berhenti.
            Sekitar 1 – 2 jam sebelum menetas, telur-telur ditebarkan dengan pelan-pelan ke dalam bak pemeliharaan. Penebaran telur dilakukan pada tingkat kepadatan 50 butir per liter air pemeliharaan.
3.6.1.   Perkembangan larva
            Larva kerapu tikus yang baru menetas mempunyai panjang badan total 1,69 – 1,79 mm dan lama waktu penetasan 17 – 19 jam pada suhu 27 – 29 oC. Pada waktu larva berumur satu hari (D.1) saluran pencernaan sudah mulai terlihat tetapi mulut dan anus masih tertutup, calon mata sudah terbentuk berwarna transparan hingga larva berumur D.2 bersifat planktonis, bergerak mengikuti arus, sistem penglihatan belum berfungsi, serta masih mempunyai kuning telur (yolk sac).
Melanofor (myomer) terbentuk berupa bintik hitam pada larva berumur D.3 dan terkonsentrasi disekitar lambung. Melanofor mulai menyebar ke ventral lambung dan pangkal ekor sampai larva berumur D.6. Cadangan makanan berupa kuning telur terserap habis pada larva umur D.3 dan mulai memerlukan pakan dari luar berupa rotifer (Branchious plicatilis)  atau zooplankton lainnya  yang mempunyai nilai nutrisi yang tinggi dan cocok dengan bukaan mulut larva. Pada larva umur D.7 pigmentasi lebih banyak terbentuk pada pangkal ekor. Calon duri sirip (spina) dada terlihat pada umur D.9 dan sirip punggung pada umur D.10 dengan panjang total badan rata-rata 4,30 mm. Perkembangan bintik hitam yang semakin menebal pada bagian lambung menandakan ikan sehat dan berkembang dan sebaliknya apabila semakin memudar ikan tidak mau makan dan akhirnya mati. Duri sirip punggung nampak terlihat dan semakin memanjang pada ikan umur D.11. Pertambahan panjang spina yang menyerupai layang-layang terus berlangsung sampai larva umur D.20 – D.21 dengan panjang total larva rata-rata 6,15 mm, dan selanjutnya mereduksi menjadi duri sirip keras pertama pada sirip punggung dan sirip dada. Mereduksinya spina mulai terlihat pada larva sejak umur D.22 – D.25. Selain proses hilangnya spina yang panjang, juga terbentuk pigmentasi pada bagian badan berupa spot-spot yang merata pada tubuh ikan dan mulai terlihat pada umur D.25 – D.28. Terbentuknya bintik berwarna hitam yang semakin merata di seluruh tubuh benih yang menyerupai ikan dewasa hingga benih berumur D.45. Pada benih umur D.40 panjang total ikan berkisar antara 1,5 – 2,5 cm (Herno Minjoyo dkk. dalam Anonimous, 1999).


















Gambar 4. Metamorphosis Larva Ikan Kerapu bebek
Keterangan : A. Larva umur 0 hari, B. 4 hari, C. 10 hari, D. 19 hari, E. 28 hari, F. 37 hari, dan G. 45 hari (Subyakto dan Cahyaningsih, 2005).
3.6.2.      Pemberian Pakan
Pada awal pemeliharaan larva, fitoplankton berupa Chlorella sp. dengan kepadatan 1 – 5 × 105 sel/ml di berikan pada umur D.1. Pemberian fitoplankton pada bak larva bertujuan sebagai keseimbangan kualitas air dan pakan rotifera (Branchious plicatilis) yang tersisa yang ada di dalam bak pemeliharaan. Pemberian pakan rotifera dilakukan sejak umur 3 hari sampai 15 hari sebanyak 5 – 20 ekor/ml dan setelah benih berumur lebih dari 15 hari pemberian pakan rotifera semakin berkurang menjadi 3 – 5 ekor/ml sampai ikan berumur D.25 – D.30. Kepadatan pakan rotifera pada awal pemeliharaan disesuaikan dengan umur larva dan harus dicek setiap hari sebelum penambahan pakan baru. Kelebihan pakan akan mempengaruhi oksigen terlarut, utamanya pada malam hari.
Pada waktu larva berumur D.12 – 15 hingga umur D.20 pakan hidup yang diberikan berupa nauplii artemia dengan kepadatan 0,5 – 3 ekor/ml dan dapat ditambah dengan kopepoda untuk menambah variasi dan kandungan nutrisi pakan sejak umur D.8 – 25 hari. Pakan hidup rotifera maupun artemia sebelum diberikan harus diperkaya terlebih dahulu dengan asam lemak esensial tak jenuh ((t)3-HUFA) seperti minyak cumi-cumi dan minyak hati ikan. Pengkayaan dilakukan 6 – 8 jam untuk rotifera dan 8 – 12 jam untuk artemia. Benih ikan umur D.35 – 45 diberi pakan artemia dewasa dan udang jembret (Mysidopsis sp.) Juvenil ikan kerapu bebek umur 45 hari dan seterusnya diberi pakan rebon segar dan daging ikan segar yang digiling dengan frekuensi pemberian pakan 3 – 4 kali/hari (Herno Minjoyo dkk. dalam Anonimous, 1999).
3.7.      Pengemasan dan pengangkutan benih
Menurut Agus Hermawan dkk. dalam Anonimous (1999), dalam pengangkutan benih Ikan ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu  persiapan pengangkutan dan cara pengangkutan.
3.7.1        Persiapan pengangkutan
            Hal yang perlu diperhatikan dalam transportasi benih ikan hidup adalah cara menyediakan oksigen terlarut dalam media air selama transportasi. Ikan-ikan dalam media transportasi tersebut akan memanfaatkan oksigen yang terlarut dalam air. Kondisi air transportasi ini dipengaruhi oleh suhu air, pH, dan kandungan karbondioksida (CO3). Karbondioksida ini merupakan senyawa hasil dari respirasi ikan dan merupakan racun yang potensial bagi ikan. Karbondioksida akan mempengaruhi keasaman air sehingga akan menurunkan pH air. Tingginya kandungan karbondioksida yang dibarengi turunnya pH air akan lebih membahayakan kelangsungan hidup ikan.
            Sebelum pengangkutan perlu persiapan yang matang, terutama persiapan terhadap ikan, bahan pengemas dan  persiapan teknis lainnya guna memperlancar dan melindungi ikan hingga selamat tiba di tempat tujuan.
a.       Persiapan terhadap ikan, ikan yang akan dipacking terlebih dahulu dipuasakan guna menghindari kotoran yang dikeluarkan dari sisa-sisa metabolisme sehingga akan menurunkan kualitas air. Ikan-ikan yang akan dipacking ukurannya harus seragam untuk meghindari kanibalisme dan ikan juga harus dalam kondisi sehat agar hidup sampai di tempat tujuan.
b.      Bahan pengangkut, bahan pengangkut digolongkan menjadi dua yaitu bahan pengangkut cara terbuka dan cara tertutup. Cara terbuka yaitu drum plastik atau fiber glass, aerator atau oksigen murni, selang dan batu aerasi. Cara tertutup yaitu kardus, styrofoam, plastik, karet, oksigen dan pita perekat.
c.       Es, biasanya digunakan untuk menurunkan suhu media pemeliharaan sampai 22 oC dengan suhu rendah maka proses metabolisme berjalan lambat sehingga akan menurunkan penggunaan oksigen serta menghindari pengeluaran kotoran yang berlebihan.
d.      Air laut, air yang digunakan dalam pengangkutan mutlak harus jernih dan dengan salinitas yang tidak berbeda jauh dari media budidaya. Kekeruhan akan menyebabkan berkurangnya kandungan oksigen di dalam air dan tingginya laju konsumsi oksigen.

3.7.2.      Pengangkutan Benih
            Cara pengangkutan benih ikan yang biasa digunakan yaitu : pengangkutan benih dengan cara terbuka dan cara tertutup.
a.       Pengangkutan benih cara terbuka, pengangkutan benih dengan cara ini biasanya digunakan untuk jarak dekat atau jalan yang ditempuh melalui darat. Cara kerja atau tahapan sistem pengangkutan ini adalah sebagai berikut : drum plastik atau bak fiberglass yang telah disiapkan diisi dengan air laut hingga 1/2 atau 2/3 bagian wadah atau disesuaikan dengan jumlah ikan yang akan dimasukkan, kemudian oksigen di alirkan ke dalam wadah yang telah berisi air melalui selang oksigen yang diberi pemberat dan batu aerasi serta dilengkapi dengan regulator yang berfungsi mengatur keluarnya oksigen. Setelah itu dimasukkan ikan yang akan dibawa dan dimasukkan es yang dibungkus dengan kantong plastik untuk menghindari menurunnya salinitas media pemeliharaan akibat mencairnya es.
b.      Pengangkutan benih cara tertutup, pengangkutan dengan cara ini merupakan cara yang paling umum dilakukan karena dianggap sebagai cara yang paling aman baik untuk jarak dekat maupun jauh. Kapasitas untuk persatuan liter akan berbeda menurut lamanya pengangkutan, ukuran dan jumlah benih, yang dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.     
Tabel 1. Lama Pengangkutan, Ukuran dan Jumlah Benih per Liter Air
Ukuran (cm)
Jumlah/liter
Lama (jam)
5 – 7
5 – 7
3 – 4
2 – 3
6
10
13
15
20
10
10
10
                Cara kerja pada sistem pengangkutan ini adalah: Air laut yang telah disiapkan dimasukan kedalam kantong plastik ynag berlapis dua sebanyak 1/3 dari volume yang telah ditentukan, lalu kemudian masukkan ikan-ikan ke dalam kantong plastik yang telah berisi air laut dengan kepadatan yang telah disesuaikan dengan ukuran dan jarak tempuh yang akan di capai. Kemudian kantong plastik tersebut diisi dengan oksigen murni dengan terlebih dahulu membuang udara bebas yang terdapat dalam kantong tersebut dengan cara menyimpul plastik dengan tangan sampai dipermukaan air lalu kantong plastik siap untuk diisi oksigan murni secara perlahan melalui selang sebanyak 2/3 volume yang telah ditentukan sehingga memperoleh perbandingan air dan oksigen murni sebesar 1 : 2 bagian. Setelah berisi oksigan maka plastik disimpul dan diikat dengan karet. Kantong plastik yang sudah diikat tersebut dimasukkan kedalam styrofoam lalu diberi 1 atau 2 bungkus es. Setelah itu styrofoam tersebut ditutup rapat dan diberi pita perekat secukupnya.











4.                   PENUTUP
Ikan kerapu bebek merupakan komoditas penting bagi perdagangan domestik maupun internasional. Ikan ini memiliki bentuk badan yang lonjong dan agak gepeng serta bagian kepala memiliki bentuk yang mendatar serta tubuh ikan ini memiliki warna dasar abu-abu dengan bintik-bintik hitam diseluruh bagian tubuhnya. Di alam Ikan ini hidup pada daerah terumbu karang.
Usaha pembenihan sangatlah diperlukan untuk memenuhi pasokan benih bagi para pembudidaya dikarenakan keberadaan benih di alam saat ini mulai terbatas. Selain jumlahnya sedikit, ukurannya tidak merata dan bersifat musiman. Pemijahan kerapu bebek terjadi sepanjang tahun (12 kali) artinya waktu pemijahan ikan ini tidak tergantung pada musim. Ikan kerapu tergolong memijah secara ovipar, yaitu mengeluarkan telur ketika memijah.
Metode pemijahan terbagi atas dua yaitu metode pemijahan secara alami dan metode pemijahan buatan. Metode pemijahan secara alami yaitu pemijahan dengan sistem manipulasi lingkungan dan sistem rangsangan hormon sedangkan  pemijahan buatan yaitu pemijahan dengan metode pengurutan (Stripping).       Larva yang menetas bersifat planktonik sehingga harus diberi aerasi yang sangat lemah. Telur yang tidak menetas akan mengendap didasar bak dan sebaiknya langsung dibersihkan dengan penyimponan untuk menghindari berkembangnya bakteri. Keberhasilan larva untuk memanfaatkan pasokan pakan dari luar terutama pada saat cadangan makanan dari dalam tubuh sudah habis merupakan kunci bagi kelangsungan hidup bagi larva selanjutnya. Masa kritis pertama terjadi pada saat larva mulai buka mulut sampai saat kuning telur habis terserap.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, S. dan Sudaryanto, 2001. Pembenihan dan Pembesaran Kerapu Bebek (Chromileptes altivelis). Penebar Swadaya. Jakarta.

Anonimous. 1996. Pembenihan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus). Direktorat Bina Pembenihan, Direktorat Jendral Perikanan, Departemen Pertanian. Jakarta.

Anonimous. 1999. Pembenihan Ikan Kerapu Tikus ( Chromileptes altivelis ). Departemen Pertanian, Direktorat Jendral Perikanan, Balai Budidaya Laut. Lampung.

Anonimous. 2001. Petunjuk Teknis Produksi Benih Ikan Kerapu Bebek (Chromileptes altivelis). Pusat riset dan pengembangan Eksplorasi laut dan Perikanan Departemen kelautan dan perikanan dan Japan International Cooperation Agency, balai riset budidaya laut. Gondol.

Riyadi D.M.M. 2004. Kebijakan Pembangunan Sumber Daya Pesisir Sebagai Alternatif Pembangunan Indonesia Masa Depan ; Disampaikan pada Sosialisasi Nasional Program Marginal Fishing Community Development Pilot (MFCDP), 22 September.

Kawahara, S., E. Setiadi, S. Ismi, Tridjoko dan K. Sugama, 2000.Kunci Keberhasilan Produksi Masal Juvenil Kerapu bebek (Chromileptes altivelis). Loka Penelitian Perikanan Pantai Gondol dan Japan International Cooperation Agency. Gondol.

Kordi, K.M.G.H., 2005. Budidaya Ikan Laut : Di Keramba Jaring Apung. Rineka Cipta. Jakarta.

Kundrori, 1997. Teknik Pembenihan Kerapu Macan Di Loka Budidaya Air Payau Situbondo Jawa Timur. Laporan Praktek Kerja Lapangan. Akademi Perikanan Yogyakarta.

Murtidjo, B.A. 2002. Budidaya Kerapu Dalam Tambak. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Randall, J. E., (1987). A Preliminary Synopsis of the Groupers (Perciformes : Serranidae; Epinephelinae) ot the indo-pacific Region in J.J. Polovina, S. Ralston (editor), Tropical Snapper and Groupers : Biology and Fisheries Management. Westview Press. Inc., Boulder and London.

Subyakto, S., dan Cahyaningsih, S., 2005. Pembenihan Kerapu Skala Rumah Tangga. Agromedia pustaka. Jakarta.



Sugama, K., Wardoyo, D. Rohaniawan dan H. Matsuda, 1998. Teknologi Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis). Loka Penelitian Perikanan Pantai Gondol dan Japan International Cooperation Agency. Gondol. 

Sunyoto, P. 1994. Pembesaran Kerapu. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sunyoto, P. dan Mustahal. 1997. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis. Penebar Swadaya. Jakarta.

Supriharyono, M.S., 2002. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.