1. PENDAHULUAN
Indonesia adalah salah satu negara
kepulauan terbesar di dunia, dengan sekitar 17.508 buah pulau yang membentang
sepanjang 5.120 km dari timur ke barat sepanjang khatulistiwa dan 1.760 km dari
utara ke selatan. Luas daratan negara Indonesia mencapai 1,9 juta km2
dan luas perairan laut tercatat sekitar 7,9 juta km2. Indonesia
mempunyai panjang garis pantai sekitar 81.791 km, yang menempati urutan kedua
terpanjang di dunia setelah Kanada (Supriharyono, 2002).
Sektor kelautan dan perikanan dapat dijadikan sebagai
prioritas utama pembangunan Indonesia masa depan dalam rangka menggerakkan
kembali roda ekonomi nasional kita yang telah lama mengalami krisis ekonomi.
Hal ini sangat penting mengingat sektor daratan yang selama ini dijadikan sebagai
prioritas utama pembangunan nasional sudah mengalami kejenuhan, disamping itu
sektor kelautan dan perikanan mempunyai potensi yang besar untuk di kembangkan
(Riyadi, 2004).
Sektor kelautan dan perikanan selain
menyokong kebutuhan protein hewani bagi masyarakat, juga membuka lapangan kerja
dan menambah pendapatan masyarakat. Hal ini dapat di lihat dari adanya
stabilitas sosial ekonomi masyarakat yang cukup menonjol, terutama di daerah
pesisir. Bahkan, dewasa ini terjadi peningkatan devisa negara dari tahun ke
tahun melalui ekspor komoditas perikanan. Salah satu Ikan laut komersial yang
sekarang banyak di budidayakan dan merupakan komoditas ekspor yaitu ikan kerapu
(Sunyoto, 1994).
Ikan kerapu (Epinephelus
sp) umumnya dikenal dengan nama Grouper
merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai peluang baik dipasaran domestik
maupun pasar internasional, selain itu ikan kerapu mempunyai nilai jual tinggi.
Ikan kerapu mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk dibudidayakan karena
dapat diproduksi massal untuk melayani permintaan pasar ikan kerapu dalam
keadaan hidup (Anonimous, 1996).
Ikan kerapu yang umumnya dikonsumsi dan mempunyai nilai
ekonomis tinggi diperoleh dengan cara ditangkap atau telah dibudidayakan adalah
Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis),
Kerapu Lumpur (Epinephelus tauvina), Kerapu
Macan (E. fuscoguttatus), Kerapu Sunu
(Plectropomus macalatus, P. leopardus), Kerapu Balong (Epinephelus
merra) (Kordi, 2005).
Kerapu Bebek biasa juga disebut kerapu Tikus merupakan
salah satu jenis ikan kerapu yang mempunyai prospek pemasaran cukup baik dan
harganya mahal terutama untuk pasar ekspor. Kalau kita perhatikan ditingkat
pengumpul ikan kerapu, maka persentase kerapu bebek yang tertangkap sangat
kecil dibandingkan dengan kerapu jenis lain. Hal ini yang menyebabkan kerapu
tikus sulit di jumpai dipasaran. Permintaan pasar akan komoditas ini stabil
bahkan cenderung meningkat. Dengan demikian pengembangan usaha budidaya kerapu
bebek mempunyai prospek yang sangat cerah. Namun demikian masih menjadi
perhatian utama adalah ketersediaan benih yang belum dapat terpenuhi baik
jumlah, mutu maupun kesinambungannya. Benih yang berasal dari alam ketersediaannya
belum dapat dipastikan(Anonimous, 1999).
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas “Pembenihan Ikan Kerapu Bebek” mulai
dari Penentuan Lokasi, Penanganan Induk, Pemijahan, Produksi telur, Penetasan
Telur, Pemeliharaan Larva sampai pada Pengemasan dan pengangkutan benih.
2. BIOLOGI
KERAPU BEBEK
2.1. Klasifikasi
Menurut Sunyoto (1994), Ikan kerapu terdapat dalam 46
spesies yang hidup di berbagai tipe habitat. Dari jumlah tersebut berasal dari
7 genus, yaitu Aethaloperca, Anyperodon, Cephalopholis, Chromileptes,
Epinephelus, Plectropomus dan Variola. Dari ketujuh genus tersebut, genus Chromileptes,
Epinephelus, dan Plectropomus yang sekarang digolongkan ikan komersial, dan
mulai dibudidayakan. Ikan kerapu Bebek, dalam perdagangan internasional dikenal
dengan nama Humback seabass, Polka-dot grouper, ataupun Hump-backed rocked.
Ikan kerapu bebek dalam perdagangan Internasional mendapat
julukan sebagai Panther fish karena
di sekujur tubuhnya dihiasi bintik-bintik kecil bulat berwarna hitam. Kerapu
Bebek selain ikan konsumsi, yang berukuran kecil mempunyai bentuk dan
penampilan yang menarik sebagai ikan hias akuarium, oleh karena itu kerapu
bebek mempunyai nama lain yang cukup populer dan cantik yaitu Grace Kelly (Antoro dkk. dalam
Anonimous, 1999).
Menurut
Randall (1987) klasifikasi ikan kerapu bebek adalah :
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class :
Osteichtyes
Subclass
: Actinopterigi
Ordo
: Percomorphi
Subordo : Percoidea
Family : Serranidae
Subfamili
: Epinephelinae
Genus : Cromileptes
Spesies : Cromileptes altivelis
2.2. Morfologi
Ikan ini memiliki
bentuk badan yang lonjong dan agak gepeng. serta bagian kepala memiliki bentuk
yang mendatar, sehingga menyerupai kepala bebek. Moncongnya kelihatan meruncing
seperti moncong tikus. Sirip punggung tersusun dari 10 jari-jari keras dan
17-19 jari-jari lunak, sirip dubur terdapat 3 jari-jari keras dan 10 jari-jari
lunak. Ikan ini bisa mencapai ukuran panjang hingga 70 cm atau lebih namun yang
umum ditangkap dan dikonsumsi kebanyakan berukuran 30-50 cm (Kordi, 2005).
Tubuh ikan ini memiliki warna dasar abu-abu
dengan bintik-bintik hitam berukuran cukup besar dan terbatas jumlahnya. Warna
badan bagian atas merah sawo matang, dibagian bawah keputihan dan pada seluruh
tubuh baik kepala sampai ujung ekor termasuk siripnya, terdapat noda-noda
berwarna coklat tua yang menyebar secara merata (Murtidjo, 2002).
11 12
10

8
7 5
Gambar 1. Ikan Kerapu Bebek (Chromileptes altivelis)
Ket. Gambar : 1. Mata 7.
Sirip perut
2. Hidung 8. Sirip dubur
3. Mulut 9. Sirip ekor
4. Insang 10.
Gurat sisi
5. Tutup insang 11. Sirip punggung jari-jari lunak
6. Sirip dada 12. Sirip punggung jari-jari keras
Morfologi kerapu bebek (Akbar dan Sudaryanto, 2001)
2.3. Habitat
Pada umumnya, penyebaran ikan kerapu dapat dikatakan
identik dengan penyebaran terumbu karang, daerah tersebut merupakan habitat
utamanya (Murtidjo, 2002). Kerapu muda biasanya hidup di perairan karang pantai
dengan kedalaman 0,5 – 3 meter. Setelah menginjak dewasa berpindah ke perairan yang lebih dalam,
yakni di kedalaman 7 – 40 meter. Biasanya perpindahan ini berlangsung pada
siang dan sore hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989 dalam Subyakto dan
Cahyaningsih, 2005).
Parameter-parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan
ikan kerapu yaitu temperatur antara 24-31 oC, salinitasnya antara
30-33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih besar dari 3,5 ppm dan pH antara
7,8-8,0 (Yoshimitsu, 1986 dalam Anonimous,
1999).
3.
PEMBENIHAN IKAN KERAPU BEBEK
3.1
Penentuan Lokasi
Lokasi pembenihan (hatchery)
harus dipilih lebih dekat dengan sumber air laut dan air tawar, bersih, tidak
tercemar, bebas banjir, serta dapat ditunjang dengan sarana-sarana yang memadai
seperti transportasi, listrik, telepon dan dekat dengan keramba jaring apung
sebagai tempat penyediaan induk ikan. Keramba jaring apung merupakan cara yang
aman untuk memelihara induk atau menyiapkan calon-calon induk. Areal lokasi
mencukupi untuk tempat bak-bak pemijahan ikan, tempat pemeliharaan larva,
tempat penyediaan jasad pakan, maupun kantor dan gudang yang disesuaikan dengan
skala usaha (Sunyoto dan Mustahal, 1997).
Beberapa parameter kimia yang perlu diperhatikan dalam
pemilihan lokasi meliputi oksigen terlarut (DO), salinitas, pH, BOD, COD,
amoniak, nitrit, nitrat, logam berat, serta bahan-bahan polutan. Beberapa
parameter fisika air yang perlu diperhatikan adalah kecerahan, kekeruhan, suhu,
warna, bau, benda terapung dan padatan tersuspensi. Sedangkan parameter biologi
perairan yang menjadi pertimbangan adalah kesuburan perairan yang meliputi
kelimpahan dan keragaman fitoplankton dan zooplankton, keberadaan
mikroorganisme patogen dan biota lain yang ada di perairan (Al Qodri dkk dalam Anonimous,1999).
Menurut Sunyoto dan Mustahal (1997), Faktor yang penting
dan perlu diperhatikan dalam penetuan lokasi ini yaitu terdapatnya pasokan air
laut dan air tawar. Air laut yang akan digunakan untuk pemeliharan induk atau
sebagai tempat pemijahan harus bersih dan jernih dengan kadar garam yang selalu
konstan sekitar 30-35 ppt. Pemasokan air tawar diperlukan untuk mengontrol
kadar garam, terutama untuk pemeliharaan pakan alami yang membutuhkan kadar
garam lebih rendah dari air laut. Di samping itu, air tawar sangat diperlukan
untuk mencuci peralatan dan kebutuhan konsumsi.
Penempatan sarana-sarana yang akan mendukung
pengoperasian produksi benih perlu diperhatikan dan sebaiknya memperhitungkan
fungsi masing-masing sarana dengan seefisien mungkin. Hindari penempatan sarana
yang dapat mengganggu fungsi sarana yang lain, misalnya penempatan ruang mesin diusahakan
sejauh mungkin dengan tempat bak pemijahan dan bak-bak pemeliharaan larva.
Alasannya, suara bising dari genset dapat menggagalkan pemijahan ikan-ikan atau
pemeliharaan larva. Demikian juga tempat-tempat pembuangan air harus disalurkan
dan dibuang sejauh mungkin dari tempat pemasukan air laut.
Salah satu contoh
tata letak pada sebuah panti benih (Hatchery)
yang ideal seperti dalam gambar 2 sebagai
berikut:
|
|
|
|
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||
Gambar 2. Tata letak pembenihan ikan
kerapu tikus
Keterangan :
1.
Rakit keramba jaring apung ; 2. Kamar pompa air dan blower ; 3. Kolam air laut
; 4. Bak pemeliharaan induk; 5. Bak pengendapan; 6. Bak filter; 7. Kultur chlorella;
8. Kultur rotifera; 9. Kantor; 10. Bak pemijahan; 11. Bak inkubasi; 12. Bak larva;
13. Bak penetasan artemia; 14. Laboratorium;
15. Ruang plankton; 16. Gudang pakan; 17. Ruang rapat; 18. Ruang tamu (Sunyoto
dan Mustahal, 1997).
3.2 Penanganan
Induk
3.2.1 Seleksi
Induk
Ada dua cara untuk memperoleh induk ikan kerapu yang siap
dipijahkan. Pertama melalui usaha pembesaran dari kecil dengan metode
pembesaran di jaring apung atau di tambak, dan yang kedua dengan cara
memperoleh induk dari alam dan kemudian di tampung di tempat penampungan.
Selanjutnya, keberhasilan suatu usaha pembenihan sangat ditentukan pada
ketersediaan induk yang cukup, baik jumlah maupun mutunya. Ikan yang dipilih
sebagai calon induk sebaiknya telah mencapai ukuran dewasa (lebih dari 1,5 kg
untuk induk betina dan 3 kg untuk jantan). Semakin berat induk, semakin berat
gonad, sehingga produksi telurnya juga semakin meningkat. Ikan kerapu bebek
bersifat Hermaprodit protogini (Protogynous
hermaphrodite). Artinya setelah mencapai ukuran tertentu ikan akan berganti
kelamin dari betina menjadi jantan. Ikan kerapu bebek transisi dari betina ke
jantan setelah mencapai umur 2,0 – 2,5 tahun (Kordi, 2005).
Pengecekan jenis kelamin induk lebih baik dilakukan
menjelang bulan gelap. Induk berkelamin jantan akan dengan mudah dapat diketahui
yaitu dengan cara mengurut pada bagian perutnya maka akan keluar cairan putih
susu atau sperma. Sedangkan induk betina dapat dicirikan dengan membesarnya
bagian perut ikan, apabila disedot dengan alat kanulasi akan didapat butiran
telur (Ketut Sugama dkk dalam Anonimous,
2001).
3.2.2
Pemeliharaan Induk
Induk dipelihara pada tempat yang telah ditentukan yaitu
bak dengan ukuran 100 m3 di darat atau pada keramba jaring apung di laut.
Induk yang baru perlu waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru, dan dibutuhkan
waktu untuk beradabtasi 2 – 3 hari, keberhasilan induk beradaptasi ditandai dengan
induk mau makan.
Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan di laut yaitu
keramba jaring apung dengan ukuran perunit 8×8 m dan lubang untuk memasang
jaring 3×3 m, sedangkan voleme jaring yang digunakan adalah 3×3×3 m3
dengan mata jaring 2 inch. Pemeliharaan induk di darat menggunakan bak semen,
bak sebaiknya berbentuk bulat dengan kedalaman tidak kurang dari 2,5 m yang
dilengkapi dengan aerasi, saluran masuk air dari sisi yang satu sedangkan
saluran pembuangan dari tengah dasar bak dan dari sisi yang berlawanan. Bentuk
ini sangat baik untuk pergantian air, memberikan kesan luas bagi ikan dan
memudahkan dalam penanganan. Pergantian air dilakukan dengan sistem air
mengalir sepanjang hari sehingga terjadi pergantian air sebanyak 200 – 400 %
dengan kepadatan induk pada bak yaitu 1 – 3 kg/m2 sedangkan untuk
induk yang dipelihara di jaring apung pergantian jaring dilakukan satu kali
dalam sebulan atau dipercepat bila jaring sudah kotor dengan kepadatan induk
pada jaring apung adalah 1 – 1,5 kg/m3 air media.
3.2.3. Pematangan Gonad
Kualitas pakan yang diberikan pada induk kerapu bebek
sangat berpengaruh terhadap tingkat kematangan gonad, sehingga pakan merupakan
faktor penting bagi kebehasilan dalam proses pematangan gonad.
Induk diberi makanan berupa ikan segar antara lain
cumi-cumi, layang, selar, japuh, lemuru. Jenis-jenis ikan ini mempunyai
kandungan protein lebih dari 70 %. Pemberian protein yang tinggi sangat penting
bagi tubuh ikan karena merupakan sumber pembangunan tubuh dan energi dapat
diperoleh dari karbohidrat dan lemak. Pemberian pakan dapat dilakukan sampai
kenyang yaitu berkisar antara 1 – 3 %
dari total berat tubuh induk, dengan frekuensi pemberian pakan 1 kali sehari
pada pagi atau sore hari (Sudaryanto dkk. dalam
Anonimous, 1999).
Vitamin diberikan satu minggu sekali berupa 3 mg vitamin
E yang berfungsi untuk memperlancar kerja fungsi sel kelamin, 1000 IU vitamin C
untuk meningkatkan ketahanan tubuh dan mempercepat kematangan gonad, dan 1 – 2
mg vitamin B kompleks untuk meningkatkan nafsu makan ikan. Pemberian vitamin
dengan cara mencampurkan pada pakan (Kordi, 2005).
3.3
Pemijahan
Pasangan induk yang telah matang gonad apabila
dikumpulkan dalam satu tempat, pada waktunya akan terjadi pemijahan akan tetapi
ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi pemijahan tersebut. Pertama adalah
faktor teknis yang meliputi penanganan induk, seleksi induk dan metode yang
digunakan, kedua adalah faktor nonteknis yang meliputi iklim, letak geografis
dan kondisi lingkungan dimana induk berada.
Pemijahan kerapu bebek terjadi sepanjang tahun (12 kali)
artinya waktu pemijahan ikan ini tidak tergantung pada musim. Ikan kerapu
tergolong memijah secara ovipar, yaitu mengeluarkan telur ketika memijah dan
perbandingan induk jantan dan betina yang akan dipijahkan adalah 1:1 dengan
berat berkisar antara 1 – 4 kg. Metode pemijahan terbagi atas dua yaitu metode
pemijahan secara alami dan metode pemijahan buatan. Metode pemijahan secara
alami yaitu pemijahan dengan sistem manipulasi lingkungan dan sistem rangsangan
hormon sedangkan pemijahan buatan yaitu
pemijahan dengan metode pengurutan (Stripping).
3.3.1. Pemijahan
Alami Dengan Sistem Manipulasi
Lingkungan
Pemijahan secara alami dengan sistem manipulasi
lingkungan ini dilakukan pada bak dengan ukuran 100 m3. Kepadatan
ikan pada bak pemijahan tidak lebih dari 5 ekor/m3 dengan pergantian
air per hari minimal 100%. Pemijahan secara alami dengan sistem manipulasi
lingkungan yaitu dengan teknik penjemuran dan air mengalir. Metode penjemuran
dilakukan dengan cara menurunkan permukaan air pada siang hari sampai kedalaman
40 – 50 cm, selanjutnya pada sore hari permukaan air dinaikan dan dialirkan
sepanjang malam. Cara ini bertujuan untuk menaik-turunkan temperatur berkisar
antara 2 – 5 oC. Biasanya tiga bulan setelah perlakuan ikan akan
memijah. Pemijahan terjadi pada malam hari antara pukul 22.00 – 02.00 dengan
tingkat pembuahan antara 50 – 70 % (Sudaryanto dkk. dalam Anonimous, 1999).
3.3.2. Pemijahan Alami Dengan Rangsangan Hormon
Dalam beberapa kasus, ikan dalam bak pemijahan tidak
dapat memijah secara alami. Hal ini terjadi karena kondisi lingkungan yang
tidak memungkinkan untuk proses pematangan gonad dan pemijahan. Oleh karena
itu, perlu dilakukan rangsangan melalui penggunaan hormon untuk mempercepat pematangan
gonad.
Seperti ikan air tawar, hipofise juga dapat dilakukan
pada ikan-ikan air laut. Namun sekarang telah ada gonadotropin dan sejenisnya
yang telah diperdagangkan dalam bentuk ampul.
Sebagai contoh adalah HCG (human
chorionic gonadotropin). Hormon ini dapat
diberikan kepada induk betina maupun jantan melalui suntikan ke badan ikan. HCG
biasanya diproduksi dari plasenta mamalia (Sunyoto dan Mustahal, 1997).
Penyuntikan dilakukan pada induk ikan yang telah mencapai
tingkat tertiary globule oocytes (tingkat
4), yaitu bila diameter oocyte (bulatan-bulatan telur) telah mencapai 0,4 mm.
Penyuntikan dilakukan pada pagi hari. Induk ikan dibius dengan obat bius
seperti Polietilen glikol monofenil eter
atau minyak cengkih. Penyuntikan hormon ke dalam tubuh ikan dilakukan pada
bagian otot punggung (Intramuscular).
Baik melalui selaput daging perut (Intraperitoneal),
melalui rongga dada (chest cavity),
maupun melalui pangkal sirip pectoral.
Penyuntikan dilakukan dengan hormon gonadotropin
atau HCG dan Puberogen dengan dosis
masing-masing 250 – 500 IU (International Unit) dan 50 IU – 75 IU per kg bobot
Induk. Penyuntikan dapat dilakukan 1 – 2 kali. Bila penyuntikan dilakukan 2
kali, maka selang waktu antara
penyuntikan pertama dan kedua adalah 24 jam. Bila pada malam harinya
ikan belum memijah juga, maka dilakukan penyuntikan kedua yaitu 24 jam setelah
penyuntikan pertama, dengan jenis hormon yang sama dan dosis dua kali lipat.
Biasanya setelah penyuntikan, pada sore atau malam hari, induk akan memijah
(Kordi, 2005).
3.3.3. Pemijahan Buatan Dengan Metode Pengurutan (Stripping)
Metode
pemijahan dengan cara pengurutan dilakukan bila sepasang induk ikan benar-benar
matang gonad. Prinsip dasar metode ini adalah mencampurkan telur-telur dengan
sperma dari sepasang induk dengan paksaan, dengan syarat induk-induk yang
dipaksa untuk di pijat telah mencapai fase matang gonad. Fase matang gonad pada
induk ikan betina, dicirikan dengan perut yang kelihatan besar/membengkak,
sedangkan pada ikan jantan, terlihat adanya sperma/cairan yang keluar seperti
air susu bila bagian perut ke arah bagian lubang kelamin di tekan sedikit saja.
Metode srtipping ini, biasanya
menghasilkan benih dengan kualitas dan kuantitas yang lebih rendah dibandingkan
dengan kualitas benih yang dipijahkan secara alami. Perlakuan yang kurang
hati-hati terhadap induk ikan pada saat stripping
dapat menyebabkan kematian pada induk ikan (Kordi, 2005).
Pencampuran telur induk betina dengan sperma induk jantan
dilakukan dengan cara bagian perut dari arah depan ke belakang atau menuju ke
arah lubang kelamin ditekan, kemudian sperma yang keluar diambil dengan alat
sedotan atau alat suntik dan dicampurkan dengan telur-telur dari induk betina. Metode
stripping di bagi dua, yaitu : metode kering (dry method) dan metode basah (wet
method). Pada metode kering, wadah tempat menampung telur hasil pemijahan
tanpa diberi air, sedangkan pada metode basah, wadah tempat penampungan telur
diberi sedikit air.
Pada metode kering, telur dan sperma diaduk menggunakan
bulu ayam juga dapat menggunakan air yang mengalir. Sel telur dan sperma hasil
stripping yang telah dicampur dibiarkan selama 10 menit. Setelah itu
telur-telur dicuci dan setelah bersih segera dipindahkan ke dalam bak penetasan
(Kundrori, 1997).
3.4.
Produksi Telur
Ikan kerapu tikus betina menghasillkan telur dalam jumlah
yang berbeda sesuai dengan ukuran tubuh. Induk yang lebih besar akan menghasilkan
telur yang lebih banyak dibandingkan dengan yang lebih kecil. Untuk induk
dengan berat badan 1,0 kg menghasilkan telur antara 200.000 – 300.000 butir
dalam satu siklus pemijahan. Tingkat pembuahan yang dicapai adalah 50 – 70 %
sedangkan tingkat penetasan mencapai 60 – 70 %.
Telur yang dibuahi berwarna bening/transparan, melayang
di badan air atau mengapung di permukaan air. Diameter telur 850 – 950 μ dan
mempunyai gelembung minyak dengan diameter 170 – 220 μ. Telur yang dibuahi akan
mengalami perkembangan lebih lanjut, terbentuk embryo dan menetas menghasilkan
larva. Telur yang tidak dibuahi akan berubah warna menjadi keruh atau putih dan mengendap di dasar bak
(Sudaryanto dkk. dalam Anonimous,
1999).
3.5. Penetasan
Telur
3.5.1. Inkubasi
Telur
Inkubasi telur bertujuan untuk
membuat kondisi agar perkembangan embrio berlangsung dengan baik sehingga diperoleh
larva yang berkualitas. Telur-telur fertil yang mempunyai sifat terapung dari
hasil pemijahan secara alamiah maupun secara buatan (stripping) di tampung di dalam kantong jaring yang halus. Kantong
jaring tersebut dapat dibuat dari kain yang halus atau plankton net dengan diameter jaring kurang dari diameter telur.
Kantong jaring tersebut di masukan
ke dalam bak-bak bulat berkapasitas 0,5 – 1 m3 air laut filter (air
laut bersih). Air laut yang digunakan selalu mengalir pada tingkat 20
liter/menit sehingga terus terjadi pergantian air. Aerasi yang diberikan tidak
terlalu kuat agar telur-telur menyebar merata (Sunyoto dan Mustahal, 1997).
3.5.2. Penetasan
Telur
Penetasan telur dapat
dilakukan dalam bak penetasan atau langsung dalam bak pembesaran larva. Bak
penetasan dan bak larva dilengkapi aerasi dan diisi air laut yang telah
disaring dengan saringan pasir. Kadar garam air laut untuk inkubasi berkisar
antara 31 – 34 ppt dan suhu 26,8 – 28,9o C, dalam kondisi ini telur
akan menetas setelah 16 – 18 jam pembuahan. Dikarenakan larva kerapu yang baru
menetas sangat lembut dan rentan dengan sentuhan benda lain, maka disarankan
untuk menetaskan telur langsung dalam bak pembesaran larva. Larva yang menetas
bersifat planktonik sehingga harus diberi aerasi yang sangat lemah. Telur yang
tidak menetas akan mengendap didasar bak dan sebaiknya langsung dibersihkan dengan
penyimponan untuk menghindari berkembangnya bakteri (Ketut Sugama dkk., 1998).

Gambar 3. Perkembangan Telur Ikan Kerapu Bebek
Keterangan :
(1) Stadia Pembelahan 2 sel; (2) Stadia pembelahan
48 – 96 sel; (3) Stadia awal morulla; (4) Stadia awal Blastula; (5) Stadia
pertengahan blastula; (6) Pembentukan embrio; (7) Blastpore; (8) Saat sebelum
menetas; (9) Larva baru menetas (Subyakto dan Cahyaningsih, 2005).
3.6.Pemeliharaan Larva
Pemeliharaan larva kerapu dapat menggunakan bak semen
bervolume 0,5 – 10 ton. Larva kerapu seperti jenis larva ikan laut yang lain
tidak tahan terhadap perubahan lingkungan yang besar seperti : perubahan suhu,
salinitas, pH air dan intensitas cahaya. Dalam pemeliharaan larva, keberhasilan
larva untuk memanfaatkan pasokan pakan dari luar terutama pada saat cadangan
makanan dari dalam tubuh sudah habis merupakan kunci bagi kelangsungan hidup
bagi larva selanjutnya. Masa kritis pertama terjadi pada saat larva mulai buka
mulut sampai saat kuning telur habis terserap. Oleh karena itu harus
menyediakan pakan awal yang mempunyai ukuran lebih kecil dari ukuran bukaan
mulutnya, dalam jumlah dan mutu nutrisi yang cukup (Shogo Kawahara, 2000).
Menurut Sunyoto dan Mustahal
(1997), sebelum larva ditebar, bak-bak untuk pemeliharaan harus disiapkan.
Bak-bak diisi air laut yang telah difilter dengan jumlah kira-kira 80% dari
kapasitasnya serta dipasok aerasi pada tingkat kecepatan rendah, artinya
gelembung-gelembung udara yang keluar diusahakan sekecil mungkin, tetapi tidak
berhenti.
Sekitar 1 – 2 jam sebelum menetas,
telur-telur ditebarkan dengan pelan-pelan ke dalam bak pemeliharaan. Penebaran
telur dilakukan pada tingkat kepadatan 50 butir per liter air pemeliharaan.
3.6.1. Perkembangan
larva
Larva kerapu tikus yang baru menetas
mempunyai panjang badan total 1,69 – 1,79 mm dan lama waktu penetasan 17 – 19
jam pada suhu 27 – 29 oC. Pada waktu larva berumur satu hari (D.1)
saluran pencernaan sudah mulai terlihat tetapi mulut dan anus masih tertutup,
calon mata sudah terbentuk berwarna transparan hingga larva berumur D.2
bersifat planktonis, bergerak mengikuti arus, sistem penglihatan belum
berfungsi, serta masih mempunyai kuning telur (yolk sac).
Melanofor (myomer) terbentuk berupa bintik hitam pada
larva berumur D.3 dan terkonsentrasi disekitar lambung. Melanofor mulai
menyebar ke ventral lambung dan pangkal ekor sampai larva berumur D.6. Cadangan
makanan berupa kuning telur terserap habis pada larva umur D.3 dan mulai
memerlukan pakan dari luar berupa rotifer (Branchious
plicatilis) atau zooplankton
lainnya yang mempunyai nilai nutrisi
yang tinggi dan cocok dengan bukaan mulut larva. Pada larva umur D.7 pigmentasi
lebih banyak terbentuk pada pangkal ekor. Calon duri sirip (spina) dada
terlihat pada umur D.9 dan sirip punggung pada umur D.10 dengan panjang total
badan rata-rata 4,30 mm. Perkembangan bintik hitam yang semakin menebal pada
bagian lambung menandakan ikan sehat dan berkembang dan sebaliknya apabila
semakin memudar ikan tidak mau makan dan akhirnya mati. Duri sirip punggung
nampak terlihat dan semakin memanjang pada ikan umur D.11. Pertambahan panjang
spina yang menyerupai layang-layang terus berlangsung sampai larva umur D.20 –
D.21 dengan panjang total larva rata-rata 6,15 mm, dan selanjutnya mereduksi
menjadi duri sirip keras pertama pada sirip punggung dan sirip dada.
Mereduksinya spina mulai terlihat pada larva sejak umur D.22 – D.25. Selain
proses hilangnya spina yang panjang, juga terbentuk pigmentasi pada bagian
badan berupa spot-spot yang merata pada tubuh ikan dan mulai terlihat pada umur
D.25 – D.28. Terbentuknya bintik berwarna hitam yang semakin merata di seluruh
tubuh benih yang menyerupai ikan dewasa hingga benih berumur D.45. Pada benih
umur D.40 panjang total ikan berkisar antara 1,5 – 2,5 cm (Herno Minjoyo dkk. dalam Anonimous, 1999).

Gambar 4. Metamorphosis Larva Ikan Kerapu bebek
Keterangan : A. Larva umur 0 hari, B.
4 hari, C. 10 hari, D. 19 hari, E. 28 hari, F. 37 hari, dan G. 45 hari
(Subyakto dan Cahyaningsih, 2005).
3.6.2.
Pemberian Pakan
Pada awal pemeliharaan larva, fitoplankton berupa Chlorella sp. dengan kepadatan 1 – 5 ×
105 sel/ml di berikan pada umur D.1. Pemberian fitoplankton pada bak
larva bertujuan sebagai keseimbangan kualitas air dan pakan rotifera (Branchious plicatilis) yang tersisa yang
ada di dalam bak pemeliharaan. Pemberian pakan rotifera dilakukan sejak umur 3
hari sampai 15 hari sebanyak 5 – 20 ekor/ml dan setelah benih berumur lebih
dari 15 hari pemberian pakan rotifera semakin berkurang menjadi 3 – 5 ekor/ml
sampai ikan berumur D.25 – D.30. Kepadatan pakan rotifera pada awal
pemeliharaan disesuaikan dengan umur larva dan harus dicek setiap hari sebelum
penambahan pakan baru. Kelebihan pakan akan mempengaruhi oksigen terlarut,
utamanya pada malam hari.
Pada waktu larva berumur D.12 – 15 hingga umur D.20 pakan
hidup yang diberikan berupa nauplii artemia dengan kepadatan 0,5 – 3 ekor/ml
dan dapat ditambah dengan kopepoda untuk menambah variasi dan kandungan nutrisi
pakan sejak umur D.8 – 25 hari. Pakan hidup rotifera maupun artemia sebelum
diberikan harus diperkaya terlebih dahulu dengan asam lemak esensial tak jenuh
((t)3-HUFA) seperti minyak cumi-cumi dan minyak hati ikan.
Pengkayaan dilakukan 6 – 8 jam untuk rotifera dan 8 – 12 jam untuk artemia.
Benih ikan umur D.35 – 45 diberi pakan artemia dewasa dan udang jembret (Mysidopsis sp.) Juvenil ikan kerapu
bebek umur 45 hari dan seterusnya diberi pakan rebon segar dan daging ikan
segar yang digiling dengan frekuensi pemberian pakan 3 – 4 kali/hari (Herno
Minjoyo dkk. dalam Anonimous, 1999).
3.7. Pengemasan dan pengangkutan benih
Menurut Agus Hermawan dkk. dalam Anonimous (1999), dalam pengangkutan benih Ikan ada dua hal
yang harus diperhatikan, yaitu persiapan
pengangkutan dan cara pengangkutan.
3.7.1
Persiapan pengangkutan
Hal yang perlu diperhatikan dalam
transportasi benih ikan hidup adalah cara menyediakan oksigen terlarut dalam
media air selama transportasi. Ikan-ikan dalam media transportasi tersebut akan
memanfaatkan oksigen yang terlarut dalam air. Kondisi air transportasi ini dipengaruhi
oleh suhu air, pH, dan kandungan karbondioksida (CO3).
Karbondioksida ini merupakan senyawa hasil dari respirasi ikan dan merupakan
racun yang potensial bagi ikan. Karbondioksida akan mempengaruhi keasaman air
sehingga akan menurunkan pH air. Tingginya kandungan karbondioksida yang dibarengi
turunnya pH air akan lebih membahayakan kelangsungan hidup ikan.
Sebelum pengangkutan perlu
persiapan yang matang, terutama persiapan terhadap ikan, bahan pengemas
dan persiapan teknis lainnya guna
memperlancar dan melindungi ikan hingga selamat tiba di tempat tujuan.
a. Persiapan terhadap ikan, ikan
yang akan dipacking terlebih dahulu dipuasakan guna menghindari kotoran yang dikeluarkan
dari sisa-sisa metabolisme sehingga akan menurunkan kualitas air. Ikan-ikan yang
akan dipacking ukurannya harus seragam untuk meghindari kanibalisme dan ikan
juga harus dalam kondisi sehat agar hidup sampai di tempat tujuan.
b. Bahan pengangkut, bahan
pengangkut digolongkan menjadi dua yaitu bahan pengangkut cara terbuka dan cara
tertutup. Cara terbuka yaitu drum plastik atau fiber glass, aerator atau
oksigen murni, selang dan batu aerasi. Cara tertutup yaitu kardus, styrofoam,
plastik, karet, oksigen dan pita perekat.
c. Es, biasanya digunakan untuk
menurunkan suhu media pemeliharaan sampai 22 oC dengan suhu rendah
maka proses metabolisme berjalan lambat sehingga akan menurunkan penggunaan
oksigen serta menghindari pengeluaran kotoran yang berlebihan.
d. Air laut, air yang digunakan
dalam pengangkutan mutlak harus jernih dan dengan salinitas yang tidak berbeda
jauh dari media budidaya. Kekeruhan akan menyebabkan berkurangnya kandungan
oksigen di dalam air dan tingginya laju konsumsi oksigen.
3.7.2.
Pengangkutan Benih
Cara pengangkutan benih ikan yang
biasa digunakan yaitu : pengangkutan benih dengan cara terbuka dan cara
tertutup.
a. Pengangkutan benih cara
terbuka, pengangkutan benih dengan cara ini biasanya digunakan untuk jarak
dekat atau jalan yang ditempuh melalui darat. Cara kerja atau tahapan sistem
pengangkutan ini adalah sebagai berikut : drum plastik atau bak fiberglass yang
telah disiapkan diisi dengan air laut hingga 1/2 atau 2/3 bagian wadah atau disesuaikan
dengan jumlah ikan yang akan dimasukkan, kemudian oksigen di alirkan ke dalam
wadah yang telah berisi air melalui selang oksigen yang diberi pemberat dan
batu aerasi serta dilengkapi dengan regulator yang berfungsi mengatur keluarnya
oksigen. Setelah itu dimasukkan ikan yang akan dibawa dan dimasukkan es yang dibungkus
dengan kantong plastik untuk menghindari menurunnya salinitas media pemeliharaan
akibat mencairnya es.
b. Pengangkutan benih cara
tertutup, pengangkutan dengan cara ini merupakan cara yang paling umum
dilakukan karena dianggap sebagai cara yang paling aman baik untuk jarak dekat
maupun jauh. Kapasitas untuk persatuan liter akan berbeda menurut lamanya
pengangkutan, ukuran dan jumlah benih, yang dapat dilihat pada tabel sebagai
berikut.
Tabel
1. Lama Pengangkutan, Ukuran dan Jumlah Benih per Liter Air
|
Ukuran (cm)
|
Jumlah/liter
|
Lama (jam)
|
|
5 – 7
5 – 7
3 – 4
2 – 3
|
6
10
13
15
|
20
10
10
10
|
Cara kerja pada sistem
pengangkutan ini adalah: Air laut yang telah disiapkan dimasukan kedalam
kantong plastik ynag berlapis dua sebanyak 1/3 dari volume yang telah
ditentukan, lalu kemudian masukkan ikan-ikan ke dalam kantong plastik yang
telah berisi air laut dengan kepadatan yang telah disesuaikan dengan ukuran dan
jarak tempuh yang akan di capai. Kemudian kantong plastik tersebut diisi dengan
oksigen murni dengan terlebih dahulu membuang udara bebas yang terdapat dalam
kantong tersebut dengan cara menyimpul plastik dengan tangan sampai dipermukaan
air lalu kantong plastik siap untuk diisi oksigan murni secara perlahan melalui
selang sebanyak 2/3 volume yang telah ditentukan sehingga memperoleh
perbandingan air dan oksigen murni sebesar 1 : 2 bagian. Setelah berisi oksigan
maka plastik disimpul dan diikat dengan karet. Kantong plastik yang sudah
diikat tersebut dimasukkan kedalam styrofoam lalu diberi 1 atau 2 bungkus es.
Setelah itu styrofoam tersebut ditutup rapat dan diberi pita perekat secukupnya.
4.
PENUTUP
Ikan kerapu bebek merupakan
komoditas penting bagi perdagangan domestik maupun internasional. Ikan ini
memiliki bentuk badan yang lonjong dan agak gepeng serta bagian kepala memiliki
bentuk yang mendatar serta tubuh ikan ini memiliki warna dasar abu-abu dengan
bintik-bintik hitam diseluruh bagian tubuhnya. Di alam Ikan ini hidup pada
daerah terumbu karang.
Usaha pembenihan sangatlah diperlukan untuk memenuhi pasokan benih bagi
para pembudidaya dikarenakan keberadaan benih di alam saat ini mulai terbatas.
Selain jumlahnya sedikit, ukurannya tidak merata dan bersifat musiman.
Pemijahan kerapu bebek terjadi sepanjang tahun (12 kali) artinya waktu
pemijahan ikan ini tidak tergantung pada musim. Ikan kerapu tergolong memijah
secara ovipar, yaitu mengeluarkan telur ketika memijah.
Metode pemijahan terbagi atas dua yaitu metode pemijahan secara alami dan
metode pemijahan buatan. Metode pemijahan secara alami yaitu pemijahan dengan
sistem manipulasi lingkungan dan sistem rangsangan hormon sedangkan pemijahan buatan yaitu pemijahan dengan
metode pengurutan (Stripping). Larva yang menetas bersifat planktonik
sehingga harus diberi aerasi yang sangat lemah. Telur yang tidak menetas akan
mengendap didasar bak dan sebaiknya langsung dibersihkan dengan penyimponan
untuk menghindari berkembangnya bakteri.
Keberhasilan larva untuk memanfaatkan pasokan pakan dari luar terutama pada
saat cadangan makanan dari dalam tubuh sudah habis merupakan kunci bagi
kelangsungan hidup bagi larva selanjutnya. Masa kritis pertama terjadi pada
saat larva mulai buka mulut sampai saat kuning telur habis terserap.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar,
S. dan Sudaryanto, 2001. Pembenihan dan Pembesaran Kerapu Bebek (Chromileptes altivelis). Penebar
Swadaya. Jakarta.
Anonimous.
1996. Pembenihan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus
fuscoguttatus). Direktorat Bina Pembenihan, Direktorat Jendral
Perikanan, Departemen Pertanian. Jakarta.
Anonimous. 1999. Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (
Chromileptes altivelis ).
Departemen Pertanian, Direktorat Jendral Perikanan, Balai Budidaya Laut.
Lampung.
Anonimous. 2001. Petunjuk Teknis Produksi Benih
Ikan Kerapu Bebek (Chromileptes
altivelis). Pusat riset dan pengembangan Eksplorasi laut dan Perikanan
Departemen kelautan dan perikanan dan Japan International Cooperation Agency,
balai riset budidaya laut. Gondol.
Riyadi D.M.M. 2004. Kebijakan
Pembangunan Sumber Daya Pesisir Sebagai Alternatif Pembangunan Indonesia Masa
Depan ; Disampaikan pada Sosialisasi Nasional Program Marginal Fishing Community Development Pilot
(MFCDP), 22 September.
Kawahara, S., E. Setiadi, S. Ismi, Tridjoko
dan K. Sugama, 2000.Kunci Keberhasilan Produksi Masal Juvenil Kerapu bebek (Chromileptes altivelis). Loka
Penelitian Perikanan Pantai Gondol dan Japan International Cooperation Agency.
Gondol.
Kordi, K.M.G.H., 2005. Budidaya
Ikan Laut : Di Keramba Jaring Apung. Rineka Cipta. Jakarta.
Kundrori, 1997. Teknik Pembenihan Kerapu Macan Di
Loka Budidaya Air Payau Situbondo Jawa Timur. Laporan Praktek Kerja
Lapangan. Akademi Perikanan Yogyakarta.
Murtidjo, B.A. 2002. Budidaya Kerapu Dalam Tambak.
Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Randall, J. E., (1987). A Preliminary Synopsis of the
Groupers (Perciformes : Serranidae; Epinephelinae) ot the indo-pacific
Region in J.J. Polovina, S. Ralston (editor), Tropical Snapper and Groupers :
Biology and Fisheries Management. Westview Press. Inc., Boulder and London.
Subyakto, S., dan Cahyaningsih, S., 2005. Pembenihan
Kerapu Skala Rumah Tangga. Agromedia pustaka. Jakarta.
Sugama, K., Wardoyo, D. Rohaniawan dan H.
Matsuda, 1998. Teknologi Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis). Loka Penelitian Perikanan Pantai
Gondol dan Japan International Cooperation Agency. Gondol.
Sunyoto, P. 1994. Pembesaran Kerapu. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Sunyoto, P. dan Mustahal. 1997. Pembenihan
Ikan Laut Ekonomis. Penebar Swadaya. Jakarta.
Supriharyono,
M.S., 2002. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis.
PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.



No comments:
Post a Comment